KEISTIMEWAAN KEKRISTENAN – JEMAAT LOKAL

Tuhan sejak awal zaman gereja PB telah merancang sesuatu yang sangat baik bahwa setiap orang percaya harus bergabung ke dalam sebuah jemaat lokal dan digembalakan oleh seorang yang paling mengasihiNya. Petrus dimintai komitmen, dan kemudian ditugaskan menggembalakan domba-domba milik Tuhan (Yoh. 21:15). Dan Rasul Paulus menyebut JEMAAT adalah tubuh Kristus, ingat JEMAAT bukan kekristenan.

Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. (Eph 1:23)

Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. (Kol.1:18)

Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. (Kol.1:24)

Jemaat yang berasal dari bahasa Yunani ἐκκλησία adalah orang yang berkumpul di sebuah lokasi. Jadi, sangat salah untuk mengajarkan bahwa seluruh kekristenan adalah tubuh Kristus. Keseluruhan orang yang telah bertobat dan percaya atau lahir baru, adalah keluarga Allah. Tetapi yang disebut tubuh Kristus itu JEMAAT yaitu orang percaya yang berkumpul. Maka, saya yang di Jakarta tidak satu tubuh Kristus dengan saudara saya yang di AS, melainkan satu keluarga Allah.

Katolik Menyesatkan

Kemudian muncul pengajar-pengajar sesat dengan ide gereja yang universal atau yang katolik, dan mengajarkan kesesatan bahwa yang masuk ke dalam gereja universal itu orang yang akan selamat, kalau di luar gereja Katolik orang itu akan binasa. Akhirnya konsep bergeser dari yang tadinya Yesus Juruselamat menjadi gereja adalah Juruselamat, dan cara gereja menyelamatkan ialah melalui sakramen-sakramen dan upacara ritual dengan imam yang berwenang mengampuni dosa.

Kemudian terbentuk konsep bahwa gereja itu satu karena dia tubuh Kristus dan hanya satu maka gereja harus bersifat universal (katolik), dengan satu kepala yaitu Kristus dan yang di Roma itu wakilNya. Padahal keinginan Tuhan itu tiap jemaat di sebuah lokasi dengan seorang Gembala adalah tubuhNya. Kalau begitu berarti tubuh Kristus ada banyak? Ya, karena tubuh rohani bukan tubuh jasmani.

Jemaat Lokal Yang Tergembalakan Rapi

Maunya Tuhan orang percaya yang terkumpul digembalakan seorang yang paling mengasihiNya, dan mengajar jemaat yang digembalakan dengan satu-satunya firmanNya yaitu Alkitab. Setiap anggota jemaat memegang Alkitab, dan belajar bersama-sama di bawah bimbingan Gembala, bukan imam yang berwenang mengampuni dosa orang. Gembala bersama Diaken dengan seluruh anggota jemaat saling memperhatikan, saling mengasihi, saling membantu dan tentu juga saling menegur.

Jika ada jemaat yang kesusahan, dicari tahu mengapa bisa susah? Kalau malas ya dinasihati, ditegur. Kalau kesusahan yang memerlukan bantuan ya bersama-sama membantu. Semuanya saling mengasihi, dan tidak menjadi orang yang mumpung atau memanfaatkan orang lain, melainkan semuanya tulus. Bahkan semuanya membawa konsep dan mental yang ingin menjadi pemberi kebaikan bukan pengambil keuntungan. Karena semua anggota jemaat harus memiliki beban untuk menginjil dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang.

Tuhan mau dengan jemaat lokal yang tergembalakan dengan rapi, maka tidak ada orang Kristen yang tidak paham doktrin-doktrin dasar kekristenan, dan tidak ada orang Kristen yang malas, yang hidupnya kacau sehingga memancarkan kesaksian buruk. Dan tidak ada orang Kristen yang meminta-minta, atau orang Kristen yang dimanfaatkan untuk jadi sasaran meminta-minta. Karena jika setiap orang tergembalakan dengan rapi, dan tidak ada satu orang Kristen pun yang tidak tercatat sebagai anggota dari sebuah jemaat lokal, maka kekristenan akan jauh-jauh lebih indah dan rapi.

Reformator Gagal Paham

Tetapi, para Reformator telah gagal paham tentang gereja, mereka tidak paham bahwa tubuh Kristus adalah jemaat lokal. Mereka masih terpengaruh konsep Katolik bahwa tubuh Yesus itu satu dan bersifat universal. Akhirnya dalam kebingungan mereka berkata bahwa gereja universal yang mereka imani itu bukan yang GRK karena mereka telah keluar, dan mereka menciptakan konsep baru bahwa gereja universal (katolik) mereka itu adalah yang invisible (tak terlihat).

Kemudian mereka perbaiki sedikit konsep tentang gereja yang sebagai penyelamat dengan sakramennya, kembali ke Yesus Kristus adalah penyelamat, dan melalui iman. Namun karena mereka tidak paham konsep gereja lokal yang adalah tubuh Kristus, akhirnya muncul banyak kekacauan. Dan inilah yang menyebabkan mereka masih rajin melakukan ritual pengakuan iman bahwa mereka percaya kepada gereja yang kudus dan Am (Katolik). Kemudian mereka juga tetap mengadopsi pembaptisan bayi agar si bayi jika mati akan masuk Sorga.

Hal yang sangat merepotkan ialah bahwa mereka sudah tidak bersedia untuk direformasikan lagi. Akhirnya banyak orang Kristen yang gentayangan tidak jelas keanggotaan gerejanya, jika ditanya mereka biasa menjawab bahwa mereka anggota Gereja Universal yang INVISIBLE. Mereka pergi ke gereja gonta-ganti seperti ke mall, tidak bisa diajar dan tentu tidak bisa didisiplinkan. Di zaman medsos ini banyak orang yang memanfaatkan kesempatan, kirim WhatsApp minta uang 100 rb ke 500 nomor dan lihat ada berapa banyak orang yang tergerak. Padahal jika orang Kristen tergembalakan dengan rapi, mestinya tidak ada orang Kristen yang demikian.

Kalangan Kharismatik sejak berdirinya di Azusa Street tidak menekankan kerapian berjemaat, melainkan mempromosikan konsep suka-suka orang yang datang mirip pergi nonton konser. Bahkan banyak pengkhotbah mereka yang punya talenta berbicara yang hanya bertujuan mengumpulkan orang dengan target dompet atau rekening mereka. Pengunjung tidak jelas, apakah dia anggota atau bukan dan pemimpin juga tidak tahu yang mana anggotanya dan mana bukan, yang paling penting untuk diketahuinya adalah jumlah uang yang masuk.

Situasi Semakin Runyam

Selain kekacauan Konsep Katolik, juga ditambah dengan reformator yang gagal paham, dan tambah runyam lagi mereka yang menjadi Kristen dari latar belakang agama lain. Di dalam Islam tidak ada keanggotaan Masjid, pokoknya kalau Jumat ya mereka pergi sholat berjemaat di masjid mana saja. Apalagi yang Hindu Buddha, mereka tidak ada keanggotaan Pura atau Vihara. Nah, ketika mereka menjadi Kristen, biasanya mereka buta tidak tahu apapun tentang bergereja. Mereka berpikir sebagaimana di agama lamanya ya suka-suka dia, malahan lebih seru lagi kalau berpindah-pindah gereja seperti mengunjungi mall, tidak bosan.

Mereka tidak bisa mengerti tentang keunikan kekristenan yang Tuhan inginkan, yaitu tiap jemaat lokal di sebuah lokasi adalah tubuhNya dan diperintahkan untuk digembalakan dengan sebaik-baiknya (Yoh. 21:15 – dst). Jika orang Katolik, karena memang sengaja iblis kacaukan, dan reformator gagal paham karena kesombongan mereka yang tidak mau belajar dari kaum Anabaptis, sedangkan Kharismatik hanya fokus bikin entertainmen, lalu dari mana para petobat dari penyembah berhala, dan umat agama lain bisa tahu pentingnya kerapian dalam berjemaat yang Tuhan inginkan?

Kesimpulan

Dari hal yang sangat sederhana namun sangat utama ini, orang yang berhikmat seharusnya tahu gereja apa yang sesungguhnya adalah gereja yang alkitabiah, yaitu yang sesuai Alkitab dan memenuhi keinginan hati Tuhan, Sang Gembala Agung.

GBIA (Gereja Baptis Independen Alkitabiah), yang nenek moyang rohani kami bukan dari katolik, melainkan yang sungguh mengerti bahwa jemaat lokal yang kelihatan dan tergembalakan dengan rapi adalah tubuh Kristus. Bahwa setiap anggota harus terdiri dari orang yang pernah maju ke depan jemaat membuat pengakuan iman, dan memberi diri dibaptis. Satu jemaat lokal adalah tubuh Kristus yang seluruh anggotanya saling bergandengan tangan bersepakat menyenangkan hati Tuhan, siap sedia melaksanakan perintah Tuhan. Jika Anda merasa ingin menjadi orang Kristen yang sesuai Alkitab yang menyenangkan hati Tuhan, sekarang engkau tahu harus berbuat apa. Anda tidak perlu menempuh perjalanan dari Ethiopia sampai Yerusalem untuk mendapatkan kebenaran.*

Jakarta, 14 November 2024
DR. SUHENTO LIAUW, D.R.E., TH.D.
<www.graphe-ministry.org>
<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>
Youtube: GBIA GRAPHE dan GBIA INDONESIA.
Maranatha!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *