https://drive.google.com/file/d/1Ld3EiexjDu2QNg-dpXiA6QDuCBiG0GVu/view?usp=sharing
Banyak orang Kristen malas membongkar sejarah untuk mengetahui kebenaran, melainkan hanya menelan semua yang disuguhkan oleh pemenang. Padahal ada banyak fakta sejarah yang ditulis oleh kaum tertindas. Jika seseorang hanya baca sejarah yang ditulis oleh satu pihak, sesungguhnya itu bukan kebenaran karena baru separuhnya, seperti foto robek yang kehilangan separuhnya.
Dari Kisah Para Rasul (KPR) yang ditulis Lukas, kita dapatkan pelayanan awal Rasul-rasul dan Paulus. Saat itu konsep jemaat lokal yang independen sangat kental, bahkan terlihat menyolok dari surat-surat beberapa Rasul. Dan jemaat saat itu juga betul-betul terlepas dari campur tangan pemerintah. Bahkan jemaat mengalami penganiayaan baik dari pihak Yahudi yang merasa kekristenan mengganggu iman mereka, maupun pemerintah yang berpihak pada yang melobynya dengan berbagai cara.
Mengapa Gereja Tidak Boleh Bersatu Dengan Pemerintah?
Karena penolakan bangsa Yahudi itu, maka sistem theokrasi dibubarkan, dan Tuhan memisahkan fungsi pemerintah sipil dan fungsi jemaat lokal. Sebagaimana pernyataan Rasul Paulus dalam Roma 13 bahwa pemerintah itu hamba Allah, tentu maksudnya ialah berfungsi untuk pengaturan manusia, tidak lagi seperti pemerintahan sipil zaman theokrasi PL. Tuhan menghendaki pemerintahan sipil hanya mengurus segala masalah antar manusia. Tuhan sama sekali tidak menugaskan Herodes atau Pilatus untuk memberitakan Injil atau ikut campur urusan iman orang. Dan Tuhan tidak mau pemerintah sipil meng-abuse kekuasaannya dengan mengharuskan ijin untuk aktivitas iman. Setiap pemerintah adalah hamba Allah dalam hal pengaturan hidup bermasyarakat yang rapi dan antar manusia yang saling menghormati.
Tugas pemberitaan Injil dan pendewasaan rohani setelah diselamatkan adalah urusan jemaat lokal, tidak boleh ada campur tangan dari pemerintah. Aktivitas berkumpul bernyanyi dan belajar firman Tuhan bukanlah tindakan pelanggaran atau kejahatan. Dan pemerintahan sipil tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan (power abuse) dengan mengharuskan orang yang kumpul bernyanyi untuk meminta ijin, lapor, dan lain sebagainya.
Semua orang Kristen lahir baru yang mengasihi Tuhan dan yang ingin melihat kekristenan tetap murni, sangat mengerti bahwa tidak boleh melibatkan Herodes maupun Pilatus dalam urusan kerohanian. Sudah pasti Iblis akan berusaha keras untuk masuk mengontrol kekristenan melalui “Herodes dan Pilatus.” Biasanya cara masuknya bisa melalui sumbangan dana yang sulit ditolak oleh gereja, yang tentu pada awalnya tidak terlihat mau mengontrol.
Kekristenan itu bukan agama, melainkan proyek Allah untuk mempersilakan semua bangsa non-Yahudi masuk Kerajaan Sorga sampai jumlahnya penuh (Rom.11:25). Setelah penolakan bangsa Yahudi, Tuhan perintahkan pembangunan jemaat lokal (ecclesia-Nya) untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua bangsa.
Tuhan tidak mau keterlibatan Kerajaan DUNIA dalam proyek Kerajaan Allah. Tuhan tidak mau Injil Kerajaan AllahNya dikotori oleh tangan “Herodes-Herodes” dan “Pilatus-Pilatus”. Proyek Kerajaan Allah harus terpisah dari proyek Kerajaan dunia. Kalau sampai Herodes dan Pilatus tanpa dilahirbarukan terlibat dan dilibatkan dalam urusan pemberitaan Injil, maka itu adalah MALAPETAKA, sungguh sebuah MALAPETAKA.
Kita tahu bahwa saat kekristenan start awal para Rasul semuanya mengalami penganiayaan. Rasul terakhir, Rasul Yohanes, dipenjarakan di pulau Patmos semacam pulau Nusa Kambangan, pada akhir abad pertama. Sampai akhir abad pertama di zaman Rasul Yohanes, itu menandakan bahwa kekristenan telah dianiaya setengah abad. Saat itu kekristenan kokoh kuat dan bagaikan tepung yang putih murni tanpa ragi.
Penganiayaan terhadap kekristenan awal berlangsung lebih dua ratus tahun. Iblis merasuki kaisar sinting, Nero, yang membunuh istri dan ibunya sendiri, membakar kota Roma tahun 64 AD, dan ketika terpojok dia memfitnah orang Kristen yang membakar kota Roma. Mulai saat itu penganiayaan menjadi masif di seluruh Kekaisaran Romawi. Setelah iblis dapatkan bahwa kekristenan justru semakin berkembang, maka dia mengubah strategi.
Persecution of Christians in the Roman Empire occurred intermittently over a period of over two centuries between the Great Fire of Rome in 64 AD under Nero and the Edict of Milan in 313 AD, in which the Roman Emperors Constantine the Great and Licinius legalised the Christian religion.
<https://en.m.wikipedia.org/wiki/Persecution_of_Christians_in_the_Roman_Empire>
Tuhan tidak merancang negara ikutan memberitakan Injil, bahkan Tuhan tidak menghendaki orang yang belum diselamatkan oleh Injil untuk ikutan menceritakan Injil karena mereka belum mengalami keselamatan oleh Injil. Tuhan juga tidak mau gereja berubah menjadi perusahaan sehingga Injil diberitakan oleh perusahaan. Tuhan bahkan sesungguhnya tidak pernah merancang yayasan penginjilan melainkan hanya jemaat saja.
Injil harus diberitakan oleh jemaat yang adalah tubuh Tuhan. Dan JEMAAT ialah sejumlah orang yang sudah SELAMAT dan pasti masuk Sorga yang berkumpul dalam nama Yesus di sebuah lokasi.
Konstantin Menyatukan Agama & Negara
Konstantin menjadi kaisar tahun 303 AD, ia menggantikan Galerius yang menganiaya orang Kristen. Walau teraniaya namun kekristenan maju pesat dan murni. Setiap orang yang mau percaya Yesus atau menjadi orang Kristen pasti penuh pertimbangan apakah layak ia mempertaruhkan nyawanya. Tuhan senang dengan kondisi jemaat yang terpisah total dari pemerintahan duniawi.
Sylvester menjadi Gembala atau Penilik jemaat di kota Roma dari tahun 314 sampai 335 AD. Jelas bahwa kepausan sebelum Sylvester adalah cerita tambalan belakangan, karena di zaman penganiayaan kaisar-kaisar yang lalu tidak ada jabatan kepausan. Gereja dalam kondisi penganiayaan, semua orang Kristen dan penggembalaan jemaat lokal juga dilakukan secara tersembunyi. Di lokasi mana letak kantor kepausan? Dusta besar.
Konstantin pada tahun 313 AD mengumumkan Edict of Milan, bahwa siapapun yang pernah merampas harta benda orang Kristen harus mengembalikannya. Dan sejarah mencatat bahwa Sylvester menjadi Bishop (Penilik) kota Roma mulai tahun 314, satu tahun setelah Edict of Milan. Apakah ini kebetulan, atau setelah kondisi mulai aman, penganiayaan sudah berhenti, orang-orang Kristen sudah bisa mengambil kembali harta mereka, maka Sylvester juga sudah berani tampil terang-terangan sebagai Gembala atau Penilik jemaat di kota Roma?
Kemudian Konstantin semakin terlibat mengatur gereja, mengumumkan diri menjadi orang Kristen namun tidak mau dibaptis, sampai saat hampir meninggal di bulan Mei 337 AD baru dibaptis oleh Bishop kelompok Arianus yang bernama Eusebius. Kita tahu bahwa Konsili Nicea dilaksanakan pada tahun 325 AD adalah Konsili yang belum dijamah Konstantin dan saat itu belum terbentuk kepausan.
Akhirnya gereja melakukan dua kesalahan besar secara masif, yaitu [1] bergabung dengan pemerintahan duniawi, “Herodes” dan “Pilatus” yang tidak bertobat dan beriman dengan benar dijadikan partner pemberitaan Injil dan mengestafetkan kebenaran. [2] Melakukan pembaptisan terhadap orang yang belum beriman bahkan yang masih bayi. Sesungguhnya pembaptis bayi adalah praktek penyembahan berhala.
(https://downeycmbc.org/2015/09/29/pagan-origin-of-infant-baptism/)
Dua kesalahan bahkan kesesatan tersebut yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen itu sangat merusak kekristenan. Segala macam penyimpangan muncul di kemudian hari sebenarnya adalah efek yang timbul dari mengikuti dua kesalahan tersebut.
Steer Gereja Dipegang Iblis
Semua Kristen yang bodoh merasa senang karena “Herodes & Pilatus” masuk gereja dan menjadi teman tanpa pikir tentang efeknya bagi kekristenan di masa depan. Ketika penguasa tertinggi di muka bumi menjadi orang Kristen TANPA PERTOBATAN, siapakah yang berani tidak setuju dengannya, ia bisa berakhir lebih tragis dari Yohanes Pembaptis. Istri Konstantin yang bernama Flavia Maxima Fausta dibunuh dengan ditenggelamkan dalam air yang mendidih, itu sesungguhnya direbus hidup-hidup.
Akhirnya Gereja yang berpusat di Roma semakin besar dan sudah pasti semakin berkuasa. Pembaptisan bayi menjadi alat untuk menjadikan semua warga negara Roma Kristen tanpa pertobatan dan tanpa pengertian. Hasilnya tentu bukan cuma “Herodes & Pilatus” yang menguasai gereja melainkan seluruh hirarki kepemimpinan dan jemaat adalah Kristen tanpa pertobatan dan tanpa pengertian. Gereja tidak dijalankan lagi sesuai pengajaran para Rasul, melainkan sesuai dengan pendapat pemimpin yang tidak lahir baru dan yang tidak mengerti bahkan tidak pernah baca Alkitab sama sekali.
Orang Kristen lahir baru tahu bahwa gereja telah salah jalan bahkan gereja telah diambil alih oleh iblis melalui tangan kaisar. Segala macam kesesatan akan segera masuk, mereka mulai gambar Tuhan dan bikin patung Tuhan. Konsep dewa Ra dari Mesir, yaitu dewa Matahari, ditambahkan ke dalam lukisan dengan lingkaran bulat di kepala keluarga yang mereka sebut keluarga kudus. Kalau di Yunani ada dewa-dewi yang menjaga ini dan itu, maka mereka berpikir, mengapa tidak bikin Santo dan Santa yang juga bisa menjaga ini dan itu, misalkan Santa Anna yang melindungi orang dari sambaran petir. Padahal setiap orang kristen lahir baru kalau meninggal sudah langsung ke Sorga, tidak ada yang ditugaskan menjadi satpam untuk menjaga orang yang masih hidup.
Ketika semua bayi seluruh Kekaisaran Roma dibaptis menjadi orang Kristen, maka gereja bukan lagi institusi yang Tuhan inginkan sebagai pemberita Injil dan pengajar kebenaran. Gereja yang isinya bukan orang Kristen lahir baru itu mustahil adalah tubuh Kristus. Akhirnya gereja menjadi sama seperti kuil yang penuh patung dan upacara ritual dengan kemenyan pemanggil roh. Lihatkah pembaca bahwa pintu masuk kehancuran kekristenan ialah penyatuan gereja dengan pemerintah dan pembaptisan bayi?
Sebuah pelajaran yang sangat penting dan berharga yang perlu disimak dan selalu diingat oleh pemimpin gereja bahkan juga oleh anggota jemaat sepanjang masa ialah JANGAN GEMBIRA ketika ada orang berkuasa, orang kaya, masuk ke dalam gereja tanpa bertobat dan lahir baru. Sesungguhnya itu adalah malapetaka bagi gereja. Jika gereja meminta sumbangan pada orang kaya yang tidak di dalam Tuhan, itu sesungguhnya sama dengan menjual “saham” gereja kepada iblis. Akhirnya, lambat laun iblis akan menjadi pemegang saham mayoritas.
Kristen Sejati Memisahkan Diri
Apakah orang Kristen yang lahir baru dan yang mengerti kebenaran harus tetap di gereja yang sudah menentang Alkitab dan tercampur berbagai sistem penyembahan pagan hanya demi kesatuan? Atau orang Kristen alkitabiah HARUS memisahkan diri dan tetap mempertahankan adanya jemaat lokal alkitabiah sebagai Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK, 1Tim.3:15) sepanjang masa?
Ketika sistem kepausan terbentuk yang menyatukan semua iman dengan Kekaisaran Romawi, dimanakah denominasi Anda? Sekarang banyak pihak sepertinya mau menulis ulang sejarah, karena ada yang mengurut sejarah gerejanya sampai Rasul-rasul. Padahal jika ditanya, ketika kepausan Roma Universal memasukkan semua iman kekristenan ke dalam Gereja Roma Universal yang sesat itu, gereja kalian dimana?
Sejarah mencatat ada kelompok yang menentang, misalkan kelompok Novatian dan kelompok Donatis yang menentang keras gereja negara dan pembaptisan bayi. Dalam sejarah yang ditulis oleh Katolik mereka disebut bidat. Kita sangat maklum bahwa semua penentang baptisan bayi disebut bidat. Banyak pengajaran yang dituduhkan kepada mereka oleh musuh mereka sulit untuk dipastikan kebenarannya karena bisa saja itu fitnah dan bisa juga itu penilaian dari sudut pandang Roma Katolik yang sesat.
Pada abad ke 7 juga ada kelompok yang disebut kelompok Paulicians. Tentu sesuai sejarah yang ditulis kelompok pemenang yang bersatu dengan pemerintah mereka juga disebut bidat. Tetapi, walau ada banyak variasi pengajaran yang dituduh kepada mereka yang sulit untuk diperiksa kebenarannya, namun ada kesamaan konsep penentangan yaitu menolak gereja negara dan menolak pembaptisan bayi yang belum bisa percaya.
Akhirnya karena mereka sangat menentang pembaptisan bayi, dan mereka membaptis ulang setiap orang yang kemudian bertobat yang mau bergabung ke jemaat mereka, oleh Katolik mereka disebut ANA-baptis. ANA adalah kata preposisi dalam bahasa Yunani yang artinya ULANG, jadi ANA-baptis berarti BAPTIS ULANG. Mereka inilah yang memisahkan diri dari jemaat yang menyimpang yang bersatu dengan negara dan melakukan pembaptisan bayi.
Kaum ANABAPTIS adalah kelompok satu-satunya yang berdiri teguh bahwa gereja tidak boleh bersatu dengan pemerintah duniawi dan bayi yang belum akil balik tidak boleh dibaptis. Atas iman inilah mereka disiksa, dianiaya oleh gereja-gereja yang bersatu dengan pemerintah dan yang membaptis bayi ribuan tahun. Harga yang mereka bayar untuk menjadi tetap murni dengan memisahkan diri dari gereja negara yang resmi, sungguh sangat besar. Tetapi itu layak dibayar karena nanti akan diganti dengan mahkota abadi. Setelah pihak penguasa bosan dan malu menganiaya kaum ANABAPTIS akhirnya dengan terpaksa penguasa mengulur kebebasan sedikit demi sedikit, dan kaum ANABAPTIS muncul dari bawah tanah dan menamakan gereja mereka Gereja Baptis.
Spurgeon berkata bahwa orang Baptis itu seperti aliran air, di tempat tertentu dia di bawah tanah dan di tempat tertentu dia timbul di permukaan dan menjadi sungai. Anabaptis yang dikenal atau yang tercatat dalam sejarah adalah yang timbul di permukaan yang kumpulannya menjadi besar sehingga menyita perhatian penguasa yang iri. Dan juga mereka yang dihukum mati karena tidak rela menyangkali imannya. Sedangkan Anabaptis yang diam dan bergerak di bawah tanah tentu tidak dikenal oleh pemerintah, dan pencatat sejarah pun tidak menyadari bahwa mereka ada.
Thema Buletin Edisi 104 ini ialah PERPECAHAN HARUS, PERMUSUHAN TIDAK BOLEH, adalah prinsip yang harus dipegang oleh siapapun yang menyebut dirinya KRISTEN yang artinya pengikut Kristus. Iblis menghendaki kebenaran digabungkan dengan kesesatan agar yang benar dipengaruhi yang sesat. Dan jika pihak yang benar tidak mau bergabung maka ia akan dimusuhi bahkan dianiaya, ditenggelamkan, dibakar hidup-hidup. Tentu ini bukan omong kosong karena sudah pernah mereka lakukan, dan mereka masih sangat ingin melakukannya. Kiranya orang-orang kepunyaan Allah mencamkan dan memohon hikmat dan selalu waspada.*
DR. SUHENTO LIAUW, DRE., TH.D.