Baptisan Tidak Untuk Keselamatan

Belasan tahun lalu, sekitar tahun 2005, seorang ibu dari Manado menelpon saya, dan dia marah-marah setelah baca buletin Pedang Roh bahwa masuk Sorga tidak membutuhkan baptisan. Dia ngotot bahwa jika tidak dibaptis maka tidak bisa masuk Sorga.

Saya minta dia sebutkan ayat bahwa masuk Sorga perlu baptisan, dan dia dengan cepat menyebut Markus 16:16. Dan saya ajak dia perhatikan ayat tersebut dengan seksama.

Mar 16:16 Siapa yang PERCAYA dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang TIDAK PERCAYA akan dihukum.

Percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tidak percaya akan dihukum, bukan tidak dibaptis akan dihukum. Jadi, dihukum karena tidak percaya, bukan karena tidak dibaptis. Dan ibu itu langsung menyelak, kan percaya dibaptis baru selamat. Saya katakan bahwa setelah percaya, dibaptis itu adalah konsekuensi logisnya. Barang siapa mandi dan pakai baju akan bersih, dan kalau tidak mandi tetap kotor. Faktor bikin bersih bukan pakai baju, melainkan mandi. Pakai baju adalah konsekuensi logis yang dilakukan semua orang yang masih waras. Baptisan adalah konsekuensi logis dari orang percaya yang masih sehat, bukan faktor yang menyelamatkan.

Ibu di ujung telpon diam. Saya tanya, ibu masih dengar saya? Jawabnya, masih.

Saya katakan lagi bahwa keselamatan oleh baptisan, atau mensyaratkan baptisan untuk masuk Sorga, itu selain tidak ada ayatnya, juga tidak logis.

Saya kasih contoh, misalnya ada seorang ibu yang bertobat dan percaya Yesus di Manado berkata kepada Gembalanya bahwa dia telah bertobat dan percaya Tuhan, dan meminta dibaptis. Tetapi Gembalanya berkata bahwa dia sudah beli tiket ke Jakarta dan nanti setelah pulang dari Jakarta baru akan membaptiskannya. Tetapi sementara Gembalanya di Jakarta, eh dia meninggal. Saya tanya, apakah ibu itu tidak masuk Sorga hanya gara-gara Gembalanya sibuk ke Jakarta?

Saya kasih contoh lagi, bagaimana jika ada seorang anak muda, pada hari Minggu dengar khotbah bertobat dan percaya Tuhan. Dan dia datang ke Gembala meminta dibaptis. Dan Gembalanya dengan sigap menyanggupi akan membaptiskannya minggu depan. Tetapi malam minggu dia naik sepeda motor, dan terjadi kecelakaan dan mati. Saya tanya ibu di ujung telpon, apakah anak muda itu tidak ke Sorga sekalipun sudah bertobat dan percaya, karena belum keburu dibaptis?

Ibu di ujung telpon terdiam. Saya katakan bahwa pengajaran yang mengharuskan orang dibaptis untuk masuk Sorga TELAH MENYIMPANGKAN Injil. Jika seseorang sedang sakit di rumah sakit minta dibaptis, itu pasti karena terkontaminasi pengajaran bahwa jika tidak dibaptis maka tidak bisa masuk Sorga. Jika seorang pengkhotbah datang, dan ikuti keinginannya membaptis dia, orang tersebut bisa masuk neraka karena dia mengimani pengajaran yang salah, yaitu masuk Sorga melalui baptisan.

Saya pernah diajak membesuk seorang ibu muda, seorang dokter yang menderita kanker akut. Ketika saya dengar bahwa dia akan hidup sekitar dua minggu lagi, saya bertanya apakah dia sudah siap? Dan jawabnya, sudah siap karena sudah dibaptis pendeta yang sangat terkenal. Saya kaget sekali. Dan sayang sekali dokter muda itu tidak mau dengar saya sama sekali.

Pengajaran bahwa masuk Sorga perlu baptisan, telah menekankan keselamatan atas jasa seorang Pembaptis. Betapa pentingnya jasa seorang yang membaptiskan seseorang. Ini bukan ajaran yang salah saja, melainkan sesat karena efeknya membawa orang ke neraka.

Sejak Adam jatuh ke dalam dosa, Allah merencanakan pengiriman Juruselamat, dan Juruselamat akan dihukumkan menggantikan manusia yang berdosa. Setiap orang PL yang mau masuk Sorga, atau mau dosanya dihitung AKAN tertanggung pada Sang Juruselamat, maka ia harus mempersembahkan seekor domba (binatang korban) di atas mezbah. Sudah pasti bukan domba atau mezbah itu yg menyelamatkan melainkan iman mereka kepada Juruselamat yang dijanjikan.

Korban di atas mezbah adalah upacara simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia pada Juruselamat yang Akan datang.

Baptisan persis posisinya seperti domba di atas mezbah, mengingat pada Injil (Kematian, kebangkitan Yesus) yang di belakang. Sama seperti tidak ada satu domba pun yang berjasa menyelamatkan seseorang demikian pula tidak ada satu baptisan pun yang menyelamatkan orang. Ini hanya upacara simbolistik yang sifatnya mengingatkan. Domba disembelih di atas mezbah mengingatkan Injil yang di depan, pembaptisan mengingatkan pada Injil yang di belakang.  Iman baik orang PL maupun orang PB yang menyelamatkan, bukan perbuatan pembaptisan.

Coba amati pengajaran pengkhotbah di gereja Anda tentang baptisan. Baptisan diperlukan bukan untuk keselamatan melainkan untuk menjadi murid. Saya sudah membaptis sekitar seribuan orang, bukan supaya masuk Sorga tetapi untuk menjadi murid yang taat.

Pembaptisan orang sakit dan bayi (paedobaptism) sesungguhnya penyebabnya adalah kesalahpahaman tentang tujuan pembaptisan. Apakah tujuan bayi dan orang yang sedang sakit dibaptis? Supaya jika mereka mati akan masuk Sorga? Ini bukan sekedar salah, tetapi sesat.

Baptisan alkitabiah yang harus dijalani seorang murid yang taat, harus memenuhi tiga syarat:
1. Sesudah orang yang akan dibaptis diselamatkan, bukan sebelum.
2. Dengan cara yang alkitabiah yaitu dimasukkan dalam air karena itulah arti yang benar dari kata baptizo.
3. Dilaksanakan oleh gereja yang benar. Hanya gereja yang doktrinnya benar yang adalah tubuh Kristus, yang bisa melaksanakan perintah Tuhan dengan benar.

Beberapa tahun kemudian, saat saya seminar di Manado, saya diajak mengunjungi ibu yang menelpon saya. Dia terbaring sakit. Tetapi dia berkata, pak Suhento sekarang saya sudah mengerti, karena sesudah peristiwa saya menelpon bapak, saya beli buku-buku bapak, dan sekarang saya sudah mengerti.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak kebenaran alkitabiah silakan mengunjungi
<www.graphe-ministry.org>
Dr. Suhento Liauw
Maranatha!

Leave a Reply

Your email address will not be published.