Tiap-tiap Hari Menelusuri Sejarah Baptis

Ketika Allah Memberikan Harmoni Dalam Diri Medley

Renungan Harian 23 Juni

Nas: Mazmur 94:9-23

Ketika meletus perang antara Inggris dengan Perancis pada tahun 1755, seorang pemuda enam belas tahun yang baru memulai perdagangan pakaian merasa senang, karena hal itu berarti ia dapat melayani sebagai murid baru dalam Angkatan Laut Inggris, jika ia terpilih. Demikianlah Samuel Medley, yang dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1738, berada di tengah-tengah Pertempuran Cape Lagos yang terkenal.”¹ Ia terluka ketika pertempuran bertambah dahsyat, dan sebagian besar tulang betis pada kakinya tertembak. Kakinya tidak sembuh, dan pada akhirnya, dokter bedah kapal laut itu memberitahu dia bahwa lukanya telah membusuk dan harus diamputasi.

Medley muda merasa sangat ketakutan, dan dokter memberikan dia satu hari lagi sebelum operasi. Medley mulai memikirkan ayah dan kakeknya yang saleh dan mengingat sebuah Alkitab di dalam kopernya. Ia mengambil Alkitab itu, dan membacanya semalaman dan berdoa. Keesokan paginya ketika dokter bedah kembali, ia terkagum-kagum karena mulai ada kesembuhan, dan tidak diperlukan operasi. Bukannya bertobat, Medley justru bergembira karena keberuntungannya dan berbalik lagi dari Tuhan.

Memulihkan kesehatannya sebelum melanjutkan mengejar cita-citanya agar naik pangkat di Angkatan Laut, Samuel Medley pergi ke rumah kakeknya di London. Kakeknya, William Tonge, adalah seorang pria yang saleh dan berpendidikan, melayani sebagai seorang diaken dalam penggembalaan Dr. Andrew Gifford di Eagle Street. Pria tua itu bersaksi dan memperingatkan cucunya, tetapi Medley muda tidak peduli. Kemudian di suatu Minggu malam, sang kakek memilih untuk membacakan Medley sebuah khotbah yang dibawakan oleh Dr. Isaac Watts, dan Roh Kudus membujuknya kepada pertobatan dan mengerjakan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan pelaut muda tersebut. Sungguh suatu perubahan terjadi! Hari demi hari Samuel Medley belajar di perpustakaan kakeknya. Ia sekarang berumur dua puluh dua tahun, dan tidak boleh ada waktu yang dibuang. Ia dibaptis pada bulan Desember 1760 oleh Dr. Gifford. Ia belajar baik bahasa Ibrani maupun bahasa Yunani dan mempelajari Firman Allah.

Pada bulan April 1762, ia menikah, dan bagi rumah tangga mereka dilahirkan tujuh orang putri dan satu orang putra. Pada tahun 1766, Samuel Medley mulai berkhotbah, pada tahun 1767, ia dipanggil untuk menggembalakan Gereja Baptis di Watford. Pelayanannya selama empat tahun setengah di sana sulit, karena jemaat di sana kecil dan tidak dapat menghidupi dia. Sehingga ketika ada sebuah panggilan dari Liverpool melayani di Gereja Particular Baptist, ia menerimanya. Keluarga Medley pindah ke Liverpool di awal tahun 1772, dan Gembala Medley menghabiskan sisa hidupnya melayani jemaat itu. Pertumbuhan terjadi perlahan-lahan namun terus menerus dialami, pertama terjadi penambahan terhadap fasilitas lama dan disusul dengan pembangunan sebuah gedung baru.

Hari-hari biasa Medley dimulai dalam pembelajaran segera setelah ia bangun jam 4 pagi. Renungan-renungan pribadi dan pembelajaran dilakukan hingga pukul sepuluh, dan kemudian melaksanakan beberapa tanggungjawab penggembalaannya di antara jemaatnya. Ia suka bersaksi kepada para pelaut di pelabuhan di kotanya, dan ia sangat tertarik dengan orang-orang muda. Sang gembala mencintai musik dan menulis banyak puisi yang akhirnya dijadikan lagu-lagu himne.

Pelayan Tuhan itu meninggal pada usia enam puluh satu, dan di atas tempat tidurnya, ia berkata, “’Aku adalah kapal kecil yang usang yang akan memasuki pelabuhan yang mulia: dan O, betapa indah pelabuhan itu setelah badai berlalu.’ . . . Kata-kata terakhirnya adalah, ‘Kemuliaan! Kemuliaan! Kemuliaan! Rumah! Rumah!’ Ia meninggal pada tanggal 17 Juli 1799,”² dan mengakhiri sebuah perjalanan yang indah dalam kasih karunia Allah.

EWT
____

¹ William D. Blake, An Almanac of the Christian Church (Minneapolis: Bethany House Publishers, 1987), hal. 174.
² B. A. Ramsbottom, Samuel Medley – Preacher, Pastor, Poet (Rushden, Northamptonshire, England: Fauconberg Press, 1978), hal. 11.
———————————

Renungan Tambahan DR. SUHENTO LIAUW:

1. Tuhan punya cara yang tak terbatas untuk memanggil orang dengan InjilNya. Samuel Medley sangat beruntung mempunyai seorang kakek yang mengasihi Tuhan dan mengasihinya. Walau ia sendiri tak bisa berkhotbah, sang kakek membacakan khotbah orang, dan itu pasti bisa. Jika itu dilakukan dengan penuh kasih sayang, ditambah dengan doa yang sungguh, maka itu pasti merupakan ketukan yang sangat kuat di hati sang cucu. Hasilnya Samuel Medley diselamatkan.

2. Samuel Medley nyaris pergi ke Neraka. Seandainya dia mati dalam peperangan, dia pasti berakhir di Neraka. Panjang sabar Tuhan selalu memberi kesempatan orang untuk mendengarkan Injil. Namun orang-orang seperti kakek Samuel Medley yang sangat rindu memberitakan Injil sudah semakin sulit ditemukan. Hanya orang yang telah diselamatkan yang bisa merindukan agar orang lain diselamatkan.

3. Anda perlu mendapatkan sebuah khotbah tentang keselamatan yang indah dan benar untuk dibagikan pada orang lain. Anda mungkin tidak pintar berkhotbah, tetapi pasti bisa membagikan khotbah, siapa tahu itu bisa menyelamatkan seseorang. Misalnya: https://youtu.be/GACNaDHvbGc

Leave a Reply

Your email address will not be published.