Renungan Harian 1 Oktober – Tiap-tiap Hari Menelusuri Sejarah Baptis

Gereja Baptis Pertama New Hampshire

Nas: 1 Petrus 3:14-17

Walaupun ada keraguan masalah tanggal pendirian gereja Baptis pertama di New Hampshire (1750 atau 1755), tidak ada keraguan bahwa Newtown (kini Newton) adalah tempatnya. Catatan pertama di buku-buku gereja bertanggal 1 Oktober 1767. Kita tidak tahu apa-apa mengenai hari-hari pertama gereja itu, selain bahwa ia diserang oleh ordo yang mapan (gereja negara), karena diberitahu dengan jelas hal ini dari catatan-catatan awal yang masih tersimpan. Catatannya adalah sebagai berikut: 1. John Wadleigh dipilih sebagai moderator 2. Joseph Welch dipilih sebagai pencatat [semacam sekretaris] 3. Dipungut suara, untuk melanjutkan tuntutan hukum Tuan Stewart dan Tuan Carter yang kini sudah masuk ke jalur hukum berkaitan dengan biaya yang dilimpahkan kepada mereka oleh ordo yang mapan.”¹

Sisa catatan itu berkaitan dengan gaji yang harus diberikan kepada gembala sidang mereka, Tuan Hovey. Tiga orang ditunjunk untuk mengawasi pengamanan gaji gembala sidang, dan lebih lanjut lagi diputuskan bahwa siapapun yang menolak untuk ikut serta menyediakan kompensasi 50 pound setahun, tidak akan mendapatkan perlindungan jemaat lokal terhadap tuntutan-tuntutan ordo yang mapan. Diharapkan bahwa kasus Tuan Stewart dan Tuan Carter dapat diselesaikan secara cepat untuk keuntungan mereka, tetapi sepertinya tidak dapat demikian. Hampir tiga tahun kemudian, gereja itu mengadakan rapat lagi (25 Juni 1770) dan menghabiskan semua waktu rapat untuk membicarakan tentang tuntutan hukum tersebut.

Seorang sejarahwan lain menulis, “Sungguh merupakan angin yang segar bagaikan dari gunung untuk menemukan ‘granit’ manusia yang sedemikian berlimpah di kelompok kecil Baptis New Hampshire ini. Mereka menolak untuk mendukung sebuah Gereja Negara karena terpaksa, dan mereka berketetapan untuk mendukung gembala sidang yang mereka pilih sendiri dengan sukacita. . . . Gereja seperti ini pantas untuk hidup, dan masih hidup hari ini.”² Pekerjaan kaum Baptis di New Hampshire berkembang sangat lambat setelah pendirian gereja di Newton. Dalam pidato seratus tahunnya, William Lamson menyimpulkan dengan berkata:

Tak dapat diragukan, penganiayaan yang terus menerus dan tuntutan hukum yang berulang-ulang yang menimpa kaum Baptis di tahun-tahun itu, berperan banyak dalam mengerdilkan pertumbuhan mereka (di New Hampshire). Ordo yang mapan percaya bahwa mereka adalah gereja Allah, dan bahwa mereka sedang benar-benar melayani Allah dengan cara memaksa kaum Baptis dan kaum Separatis lainnya untuk menjadi serupa dengan mereka, baik dalam doa pribadi maupun kebaktian umum. Tersebar di negara bagian itu bisa jadi ada banyak orang yang seiman dengan kita yang mengharapkan dan mendoakan suatu hari ketika mereka akan diperbolehkan menyembah Allah dan menaati perintah-perintahNya, dengan tiada orang yang mengganggu atau membuat mereka takut. Tetapi kesulitan, pada kondisi dan situasi saat itu, untuk menopang suatu gereja, menghalangi mereka berorganisasi. Mereka seperti domba yang tanpa gembala.”³

Kaum Baptis telah selalu mempertahankan bahwa pemerintah hanya perlu mengurusi pengumpulan pajak, perlindungan terhadap warga negaranya, dan penghukuman atas para kriminal yang melanggar hukum, dan bahwa separasi antara gereja dan negara saja sudah cukup untuk menjamin kebebasan beragama. Prinsip-prinsip ini adalah benar dan harus terus mencirikan kehidupan dan pemikiran Baptis.

DLC
_______

¹John T. Christian, A History of the Baptists (1922; reprint ed., Nashville: Broadman Press, 1926), hal. 144.
² Thomas Armitage, The History of the Baptists (1890; reprinted ed., Watertown, Wis.: Maranatha Baptist Press, 1976), 2:765.
³ Christian, hal. 147.
———————————-

Renungan Tambahan DR. SUHENTO LIAUW:

1. Pencinta kebenaran sangat tahu bahwa kebenaran tidak bisa diperoleh melalui kekuasaan. Itulah sebabnya kekristenan yang alkitabiah tidak compatible dengan komunisme melainkan hanya dengan demokrasi. Komunisme, berarti semua orang memiliki harta bersama, kerja bersama dengan hasil yang sama, sehingga ujungnya semua orang belomba malas bersama. Pemimpinnya harus memiliki kuasa absolut yang tidak boleh dikritik. Maka itu komunisme tidak mungkin memberikan kebebasan beragama dan dia compatible dengan atheis atau agama yang hanya ritualitas tanpa otak.

2. Karl Marx membaca Kisah Rasul pasal awal dan bikin komunisme. Banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa gereja awal di Yerusalem itu bukan jemaat ideal yang alkitabiah karena Alkitab belum jadi. Itu gereja DARURAT yang muncul dalam himpitan. Jika jemaat dalam himpitan, rekening bank kamu akan dilikuadasi pasti kamu cepat keluarkan, jika tanah kamu akan diambil negara maka pasti kamu cepat jual dan uang jadi milik bersama. Sekali lagi itu situasi dalam himpitan. Dalam keadaan damai tidak bisa harta bersama, orang miskin dan pemalas akan datang berbondong-bondong dan orang kaya mundur teratur.

3. Silakan telusuri sejarah, betapa orang Kristen di berbagai zaman tidak mengerti kebenaran. Ketika ada kebebasan mereka tidak mendirikan negara demokrasi. Katolik tetap menguasai banyak negara, Anglican menguasai Inggris, Protestan menguasai Jerman, Reformed menguasai Belanda dan Swiss, mereka tidak memberi kebebasan pada pihak lain. ORANG BAPTIS yang berjuang untuk KEBEBASAN BERAGAMA, dan mereka telah berkorban sedemikian rupa. Ketika mereka mayoritas, mereka tidak pernah berpikir untuk berkuasa dan menghilangkan kebebasan pihak lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *