Renungan Hari Terakhir Tahun 2018

Selamat pagi Bapak/Ibu/Sdr sekalian, kiranya KASIH KARUNIA Tuhan melingkupi Anda di tahun 2018 dan 2019.

Di hari terakhir tahun 2018 ini saya ingin mengajak Bapak/Ibu/Sdr. merenungkan beberapa hal yang sangat penting :

[1]. Apakah Bpk/Ibu/Sdr sudah dapatkan kepastian masuk Sorga?

Kita semua tahu gejolak alam belakangan ini, terutama Indonesia yang berlokasi di ring of fire. Setiap saat seseorang bisa pergi ke salah satu tempat ini; Sorga atau neraka.

Tidak ada satu dosapun boleh masuk Sorga yang maha kudus. Dosa manusia harus diselesaikan. Dan cara menyelesaikan dosa hanya satu yaitu dihukumkan. Itulah sebabnya Allah tidak bisa serta merta mengampuni dosa, melainkan menjadi manusia, bernama Yesus, untuk dihukumkan menanggung dosa seisi dunia. Akhirnya jalan menyelesaikan dosa terbuka. Siapapun yang telah akil balik yang mau dosanya dihitung selesai dihukumkan, ia harus bertobat dan percaya bahwa Yesus telah menggantikannya dihukumkan. Dan selanjutnya ia sepatutnya hidup mengucapkan syukur kepada Allah dan Yesus Sang Juruselamat.

Jika Bpk/Ibu/Sdr. belum mendapatkan kepastian masuk Sorga, sebaiknya jangan memasuki tahun 2019. Bahaya yang paling besar dalam hidup ini bukan kecelakaan pesawat, kena tsumani, atau longsor, melainkan masuk neraka.

Jika Bpk/Ibu/Sdr ingin dapatkan KEPASTIAN masuk Sorga dan memerlukan bimbingan, bisa menghubungi kami.

[2]. Apakah tahun 2018 Bpk/Ibu/Sdr mengalami pertumbuhan iman?

Continue Reading →

Mengapa Muncul Banyak Denominasi Gereja?

Banyak orang bingung dengan hadirnya begitu banyak denominasi gereja di muka bumi.

Pertama kita perlu tahu dulu bahwa arti kata GEREJA ialah MILIK TUHAN yang berasal dari kata bahasa Yunani KURIAKON. Kata ini pertama diterjemahkan ke bahasa Portugis jadi igreje, dan ke bahasa Indonesia menjadi GEREJA. Sedangkan JEMAAT berasal dari kata Yunani EKKLESIA yang artinya orang yang dipanggil untuk berkumpul. Kata ini diterjemahkan ke bahasa Arab jadi JEMAAH, dan menjadi bahasa Indonesia JEMAAT.

Akhirnya, ketika menunjuk pada gedung dan organisasi lebih dipakai istilah GEREJA, sedangkan ketika menunjuk pada orang-orangnya lebih dipakai istilah JEMAAT.

Maunya Tuhan VS Maunya Iblis

[1]. Tuhan mendirikan gereja karena setelah seseorang DISELAMATKAN, ia belum langsung ke Sorga. Orang percaya memerlukan persekutuan sesama orang percaya untuk saling menguatkan, dan tempat belajar segala sesuatu tentang Tuhan dan tentang Sorga sebelum kita ke sana.

Sebaliknya iblis berjuang keras agar orang yang telah terlepas dari Cengkramannya masih bisa dipengaruhinya. Iblis tidak suka orang yang telah lahir baru berjemaat, apalagi rajin belajar Alkitab. Walau tidak memiliki orang tersebut, namun ia berusaha menghambat kemajuan iman dan fungsi orang tersebut dalam imannya.

[2]. Tuhan menghendaki jemaatNya menjadikan Alkitab satu-satunya standar kebenaran. Pada saat Alkitab belum selesai, saat hanya ada PL maka standar kebenaran ialah PL dan penafsiran Rasul, sambil berjalannya waktu Tuhan menginspirasikan PB melalui Rasul. Ketika Rasul terakhir menyelesaikan kitab terakhir, Wahyu, dan mati, maka selesailah Alkitab, sebagai sebuah standar kebenaran. Semua gereja, bahkan dari gereja pertama yang di Yerusalem, benar salahnya HARUS diukur dengan Alkitab yang terdiri dari 66 kitab. Inilah satu-satunya Firman Tuhan yang diinspirasikan Roh Kudus untuk menuntun manusia menemukan Allah dan kebenaranNya, kanon tertutup yang tidak boleh ditambah atau dikurangi lagi, sudah ditutup.

Iblis berusaha membelokkan jemaat Tuhan dengan menganjurkan memasukan tradisi, adat-istiadat, keputusan pemimpin sebagai standar kebenaran di samping Alkitab. Bahkan iblis mengatasnamakan Yesus memberikan wahyu berupa fenomena bahasa aneh, berbagai penglihatan, sehingga ada yang bernubuat, untuk mengacaukan konsep bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan, kanon tertutup.

[3]. Tuhan tahu bahwa jemaatNya akan berhadapan dengan iblis, dan sebagian akan sanggup bertahan dan sebagian akan disesatkan. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki tiap-tiap gereja lokal memegang teguh Alkitab, dan harus INDEPENDEN. Tiap-tiap gereja lokal tidak boleh saling membawahi melainkan harus sederajat, saling mengasihi dengan saling menolong, dan saling mengkritik. Jika gereja A mulai menyimpang, maka gereja lain yang melihatnya HARUS menegur agar gereja A bisa kembali ke jalan yang benar yang sesuai Alkitab. Tidak boleh ada jabatan kepausan, sinode, ketua itu dan itu yang memiliki otoritas terhadap jemaat lokal. Dan jemaat harus dijalankan menurut Alkitab, dengan keputusan secara demokratis di bawah bimbingan Gembala.

Iblis berusaha mengendalikan gereja agar menyimpang dari Alkitab, dan menjadi alatnya untuk memberitakan Injil yang salah. Iblis berusaha menyesatkan gereja satu persatu, bahkan ia berusaha menyesatkan keseluruhannya. Supaya gereja tidak saling mengingatkan maka ia menggunakan jurus ampuhnya yaitu JANGAN MENGHAKIMI. Iblis berusaha menggabungkan gereja ke dalam satu wadah misalnya kepausan, sinodean, persekutuan, apa saja namanya dan sistemnya, dengan tujuan untuk menyesatkan pimpinan tertingginya sehingga seluruhnya tersesatkan. Iblis tahu persis bahwa sangat sulit untuk menyesatkan seribu gereja yang Independen karena ia harus menyesatkan seribu Gembalanya, dan dia akan kembali gagal jika mereka saling mengingatkan. Tetapi jika seribu gereja itu bisa disatukan menjadi sebuah sinode maka ia cukup menyesatkan ketua, sekretaris, bendahara, sisa yang di bawah jika tidak setuju tinggal stop transfer gajinya.

[4]. Tuhan menghendaki gerejaNya terpisah dari pemerintah duniawi. Pemerintah duniawi dilengkapi pedang (pistol/rudal), untuk menegakkan keadilan antar manusia. Sedangkan jemaat Tuhan HANYA mengurus urusan membawa jiwa-jiwa ke Sorga, dan sebelum berangkat mengajar mereka dulu dalam kumpulan jemaat. Gereja tidak tunduk pada pemerintah, bahkan tidak tunduk pada kuasa alam muat sekalipun. Tiap-tiap pribadi orang Kristen HARUS tunduk pada pemeritah yang shah.

Iblis berusaha keras merusak gereja dengan menggandengkannya dengan kekuasaan pemerintah duniawi. Bahkan iblis menggoda gereja menindas pengritiknya dengan tangan pemerintah yang pegang pistol. Iblis memakai pemerintah untuk menganiaya jemaat Tuhan dengan cara menyebutnya ilegal, liar, hingga penangkapan atas tuduhan yang aneka ragam. Di masa lalu sudah banyak pemimpin gereja yang membunuh pengritiknya dengan tangan pemerintah. Iblis berusaha memakai pemerintah mengontrol gereja, dan membangkitkan pemerintahan yang membenci kebenaran.

Wahai orang Kristen, coba pelajari bukan sekedar baca. Bahkan renungkan, Anda di pihak kehendak Tuhan atau kehendak iblis?

SEJARAH MUNCULNYA BANYAK DENOMINASI

Kita tahu bahwa para Rasul pergi memberitakan Injil dan mendirikan banyak gereja/jemaat. Mereka di bawah asuhan para Rasul sambil buku panduan ditulis para Rasul. Semua jemaat adalah independen, tidak saling membawahi. Karena buku panduan sedang ditulis oleh Roh Kudus melalui menginspirasikannya kepada para Rasul, maka ketika ada persoalan mereka menyelenggarakan semacam kongres di Yerusalem.

[A]. Saat didirikan oleh para rasul, semua jemaat benar di hadapan Tuhan. Para Rasul dipimpin langsung oleh Roh Kudus dalam mengajar secara lisan, dan juga memimpin mereka menuliskan sebuah kitab yang akan menjadi buku penduan iman ke depan.

[B]. Pada saat rasul masih hidup, ternyata iblis sudah bekerja keras untuk memunculkan Yesus palsu, Injil palsu, dan gerakan roh palsu. Silakan baca 2Kor11:4, Gal.1:6. Tentu hasil akhirnya ialah muncul banyak gereja palsu yang memberitakan Injil palsu. Lihatlah, keadaan gereja-gereja di Wahyu pasal 1 & 2. Akhirnya, di muka bumi dipenuhi oleh gereja milik Tuhan yaitu yang taat pada FirmanNya, yaitu Alkitab, dan gereja-gereja palsu milik iblis yang menyimpang dari Alkitab. Supaya bisa menipu manusia, tentu iblis tidak membuat gereja palsu yang berbeda total melainkan masih banyak kesamaannya. Tetapi tentu Kristen bodoh akan menolak menyadari adanya gereja benar dan gereja palsu.

[C]. Setelah Rasul-rasul pulang ke Sorga, Tuhan menginginkan gereja dibersihkan dengan mengijinkan penganiayaan. Dengan penganiayaan gereja palsu pasti berkurang, namun tidak musnah. Dan penganiayaan ternyata bukan menurunkan jumlah orang Kristen melainkan menambah.

[D]. Iblis kemudian menyatukan gereja-gereja dengan pemerintah Konstantin, dan memakai tangan pemerintah untuk menganiaya gereja milik Tuhan. Akhirnya terbagi dua, gereja milik iblis yang menyatu dengan pemerintahan Roma, dan gereja milik Tuhan yang tidak rela gabung. Gereja milik iblis membaptis semua bayi yang baru lahir untuk menghasilkan generasi Kristen yang akan merusak kekristenan dari dalam. Kelompok Kristen yang tidak mau gabung, membaptis ulang mereka yang bertobat setelah dewasa, sehingga kelompok ini disebut kelompok Pembaptis ULANG (Anabaptis).

[E]. Kelompok Anabaptis terpencar oleh penganiayaan selama lebih seribu tahun. Karena terpencar, bersembunyi, sehingga mereka dikenal dengan berbagai nama. Biasanya mereka disebut sekte atau kelompok sesat oleh gereja milik iblis yang bergabung dengan pemerintah. Tentu di mata gereja iblis mereka disebut sesat dan harus dibunuh. Orang Kristen yang masih ada akal sehat pasti tahu bahwa pihak yang membunuhlah sesungguhnya yang sesat.

[F]. Tahun 1050 gereja-gereja di sebelah Timur, memisahkan diri dari gereja Roma dan menamakan gereja mereka Orthodox. Tetapi mereka tetap pada jenis kesesatannya yaitu membaptis bayi dan bergabung dengan pemerintah. Oleh sebab itu sifat, pengajaran, dan semua tindak tanduk masih tetap sama.

[G]. Martin Luther, Th 1517 protes gereja yang sesat, dan ia keluar bikin gereja baru. Dua tahun pertama Luther bersemangat bikin gereja yang sesuai Alkitab. Tetapi kemudian jatuh lagi pada lubang yang sama, yaitu bergabung dengan pemerintah duniawi dan membaptis bayi. Di kemudian hari muncul banyak gereja dari gereja Luther ini.

[H]. Th 1534 ketika raja Henry VIII mau kawin lagi, dan tidak dapat ijin dari Paus, dia marah dan mengumumkan gereja-gereja di Inggris tidak lagi di bawah Vatican. Muncullah gereja Anglikan, atau nama lainnya Episkopal di AS.

[I]. Gereja-gereja Reformed muncul di Eropa sebagai terusan protesnya Luther. Dan th 1541 Calvin menguasai kota Geneva, Zwingli menguasai kota Zurich, semua menyebut usaha mereka sebagai usaha untuk mereformsi gereja yang salah, dan menamakan gereja mereka Reformed dengan sistem kepemimpinan penatua atau Presbuteros sehingga juga disebut Presbyterian. Gereja-gereja reformasi ini sangat disayangkan karena jatuh pada lubang yang sama juga yaitu membaptis bayi dan bergabung dengan pemerintah duniawi.

Pembaca, sudah ada berapa banyak denominasi gereja muncul di muka bumi? Mereka semua jatuh pada lubang yang sama, yaitu bergabung dengan pemerintah duniawi dan membaptis bayi yang belum bertobat dan percaya. Dan tabiat mereka sama yaitu memakai kekuasaan pemerintah duniawi menindas pengritik mereka.

Bahkan sampai hari ini tabiat ini belum berubah. Mereka menilai sebuah gereja benar-salah bukan berdasarkan Alkitab, melainkan berdasarkan hubungannya dengan pemerintah, misalnya gereja yang benar adalah yang terdaftar di pemerintahan. Lebih teramat heran lagi ialah sampai-sampai memiliki konsep bahwa theologi yang benar harus dari STT yang ada akreditasi pemerintah.

[J]. Karena gereja-gereja tetap jatuh ke dalam lubang yang sama yaitu bergabung dengan pemerintah dan membaptis bayi, mereka juga menganiaya kelompok ANABAPTIS yang mengritik mereka. Banyak Anabaptis dibunuh di Belanda, di Inggris John Bunyan dipenjarakan 12 th, di Zurich Felix Mann ditenggelamkan. Bagi yang ada Roh Kudus pasti tahu bahwa sesungguhnya mereka yang dianiaya inilah jemaat kepunyaan Tuhan, yang telah bersaksi ribuan tahun menentang penggabungan gereja dengan negara dan pembaptisan bayi.

[K]. Setelah situasi aman, gereja yang bergabung dengan negara sudah malu karena di AS kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi dan jadi populer, akhirnya di Eropa dengan malu-malu mereka berhenti menganiaya. Tahun 1609 berdiri gereja Baptis pertama,

_Historians trace the earliest “Baptist” church to 1609 in Amsterdam, Dutch Republic with English SeparatistJohn Smyth as its pastor. In accordance with his reading of the New Testament, he rejected baptism of infants and instituted baptism only of believing adults._ [https://en.m.wikipedia.org/wiki/Baptists]

Tahun 1609 dianggap sebagai tahun berdirinya gereja Baptis, padahal itu tahun munculnya mereka dari persembunyian setelah penganiayaan reda. Tahun 1776 AS merdeka dari Inggris, dan amandement pertamanya, negara tidak boleh bikin hukum berupa apapun tentang iman orang. Penganiayaan berhenti TOTAL, gereja Baptis tumbuh lebih subur dari jamur di AS.

[L]. Tahun 1906 muncul gerakan Pentakosta, dari berbagai anggota gereja Baptis dan gereja-gereja lain yang tidak puas dengan keadaan gereja, dan menuntut bisa berbahasa lidah. Gerakan akhirnya memuncak di 312 Azusa Street yang mengguncang dunia dengan kegilaan mereka. Bernyanyi berteriak, melompat, berguling pokoknya apa saja, yang mereka yakini itu pimpinan roh kudus.

[M]. Tahun 1909 adalah tahun pertentangan gereja-gereja Liberal (tidak percaya Alkitab tidak ada salah) dengan gereja-gereja Fundamental (percaya Alkitab tidak ada salah). Tahun ini R. A. Torrey memimpin sejumlah theolog Fundamental menghasilkan satu set buku yang berjudul _The Fundamentals_ untuk menjawab tantangan theolog Liberal yang selalu menyerang Alkitab. Tahun-tahun ke depan terjadi pertempuran rohani yang hebat antara theolog Liberal lawan theolog Fundamental.

[N]. Tahun 1947 muncul gerakan New Evangelical (injili) oleh Herold Ockenga. Ia memposisikan diri di antara Liberal dan Fundamental.

[O]. Belum lagi menyebut banyak gereja sesat lain seperti SSJ, Mormon, Advent, Christian Science dll.

TIDAK BISA TIDAK MENGHAKIMI

Fakta sejarah memberitahukan kita munculnya berbagai gereja. Semua itu disebabkan karena iblis bermain, berusaha menyesatkan manusia. Ia tidak cukup dengan menciptakan banyak sistem penyembahan berhala dan agama. Ia juga berusaha mendirikan gereja-gereja. Kitab Wahyu pasal 2 & 3 kasih tahu kita ada gereja yang sangat kacau, bahkan yang sudah menjadi pengikut Izebel. Setelah ribuan tahun berjalan, penyesatan tidak menyusut melainkan bertambah, tentu gereja yang sesat menjadi lebih banyak.

Setiap orang yang mau beriman dengan mata terbuka, bukan meram, harus memilih untuk percaya pada kebenaran. Bisa saja seseorang dilahirkan di keluarga penyembahan berhala, dan posisinya tidak membenarkannya mendapat pemaafan untuk terus hingga mati sebagai penyembah berhala. Terlebih lagi orang Kristen yang lahir di keluarga gereja sesat kepunyaan iblis. Tidak mungkin tidak menghakimi jika seseorang harus memilih yang benar dari begitu banyak opsi pilihan.

Kata Tuhan Yesus, “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” (Mat 18:7).

Jika ingin selamat, terlebih jika ingin berada di dalam kebenaran dan melakukan kebenaran, maka harus berpikir, bahkan menilai atau menghakimi untuk diri sendiri, dan memutuskan mengikuti yang benar.

Menulis dengan kasih Kristus agar yang dalam kesesatan bisa temukan jalan kebenaran.

Jakarta, 27 Des 2018
Dr. Suhento Liauw
<www.graphe-ministry.org>
Maranatha!

Pengikut KAIN Zaman Modern

Jika kita perhatikan sejarah, maka kita akan lihat pola Tuhan dan pola iblis dengan sangat jelas, dan kita akan dapat pelajaran. Setelah dapat pelajaran seharusnya kita jadi lebih berhikmat.

Ketika jumlah manusia baru beberapa orang, sudah terjadi sesuatu yang terus terjadi sampai hari ini. Ketika Kain melihat Habel berkenan kepada Tuhan, dia tidak mengintrospeksi diri, tidak bertanya, apa ada yang salah dari persembahannya? Itu persembahan bakaran, untuk untuk masak sup. Dalam Ibrani diperjelas, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr9:22).

Kain tidak mau tahu kesalahannya yang mempersembahkan tanaman, bukan binatang yang mengeluarkan darah, yang MENSIMBOLKAN Sang Juruselamat yang akan dimatikan untuk menanggung dosa manusia. Kain pakai kekerasan, dia membunuh Habel.

Dalam perjalanan sejarah, berulang-ulang, dan ulang-ulang terus, kelompok yang tidak memiliki KEBENARAN, selalu meniru tingkah si KAIN, yaitu memakai kekerasan.

Tak perlu kita singung penganiayaan yang dilakukan oleh penyembah berhala dan para Atheis, seperti yang sekarang sedang terjadi di negara-negara Komunis-Atheis, dan juga di negara yang agamanya bukan bersumber dari Tuhan. Kasusnya terlalu banyak. Mari kita lihat, fokus pada penganiayaan yang dilakukan ORANG KRISTEN, orang yang di tangannya pegang Alkitab yang katanya percaya Yesus.

Sekitar seribuan tahun gereja Katolik menganiaya Anabaptis, dan kelompok mana saja yang mengritik pengajarannya. Penganiayaan bisa sedemikian masif itu tentu memakai tangan pemerintah. Modus memakai tangan pemerintah menganiaya kelompok lain yang membawa pengajaran berbeda doktrin, selalu terulang.

Ketika John Calvin menguasai kota Geneva, ia juga memakai tangan pemerintah kota untuk menganiaya pengritiknya. Servetus dibakar hidup-hidup padahal ia tidak berbuat kesalahan apapun selain mengritik pengajaran Calvin. Lucu sekali, pengikut Calvin zaman modern berkata bahwa bukan Calvin yang membunuh Servetus melainkan pemerintah kota. Tetapi kesalahan Servetus bukan karena merampok, membunuh atau mencuri. Satu-satunya kesalahan Servetus ialah mengritik pengajaran Calvin. Hanya orang idiot yang tidak bisa melihat hubungan Calvin dengan pembunuhan Servetus.

Felix Mann, hanya berumur 22th, murid Zwingli dalam pelajaran theologi dan bahasa Yunani. Ketika Felix sampai pada kesimpulan bahwa baptisan harus kepada orang yang sudah bisa mengaku iman, tidak kepada bayi dan percik, Zwingli gurunya marah besar. Zwingli tidak cukup marah, dia mengikuti tingkah Kain, membunuh Felix dengan kekuasaan dewan kota, dengan cara menenggelamkan Felix di sungai Limnat.

Martin Luther juga terlibat penganiayaan ketika dia menggabungkan gerejanya dengan pemerintah Jerman. Tadinya, saat keluar dari Katolik Luther percaya baptisan hanya untuk yang sudah percaya, dan dengan cara selam. Buktinya, Luther menerjemahkan kata BAPTIZO dengan kata TAUCHEN, bahasa Jerman untuk kata selam pada Alkitab terjemahannya yang terbit tahun 1519.

Pengulangan Cara Kain

Ketika mahasiswa GITS tamat, ada yang berkeinginan pulang kampung dan membangun gereja di kampungnya. Saya sering mendapat laporan dari alumni tentang sikap penolakan dan perlakuan yang mereka terima, bukan dari pemimpin agama lain, tetapi justru dari pemimpin Kristen. Satu alumni GITS dari Papua yang tamat dan pulang kampung ingin membangun jemaat, mendapat ancaman dari pendeta di kampungnya yang adalah abangnya sendiri.

Saya mendengar laporan demikian merasa sangat geli. Kok bisa ya, bagaimana seandainya di sebuah kampumg sudah ada satu toko beras, lalu pemilik toko beras itu marah dan melarang orang lain jual beras di kampung itu? Apakah masuk akal kalau ada sebuah toko bahan bangunan di sebuah kampung, lalu tidak boleh ada pihak manapun yang bikin toko bangunan lagi? Padahal di semua negara sekarang sudah ada peraturan anti monopoli.

Singkat cerita, sangat disayangkan alumni GITS tersebut akhirnya menjadi penjual minyak, karena oleh abangnya sendiri tidak diijinkan untuk mendirikan gereja kedua di kampung mereka.

Banyak KAIN Zaman Modern

Cara Kain, yang sudah lebih enam ribu tahun, tidak kadaluarsa, ternyata masih banyak dipakai oleh pemimpin agama, bahkan pemimpin gereja. Mereka tidak malu-malu menjadi pengikut Kain. Ketika mereka tidak mampu mempertahankan KEBENARAN yang mereka ajarkan, mereka mulai berpikir untuk memakai cara Kain.

Sepuluh tahunan lalu ketika alumni GITS tamat dan dipanggil pulang orang tua, dan mau mendirikan gereja di daerah Sungai Ayak. Mereka sangat ditentang oleh gereja yang ada. Bahkan ada yang mengancam dengan bawa parang, maudau dll. Tetapi karena teguh hati, dan memakai akal sehat, akhirnya yang berencana memakai cara KAIN, malu juga. Dan sekarang sudah reda, jemaat yang dimulainya sudah berdiri walau sedikit jumlah anggotanya.

Ketika artikel ini ditulis, saya dapat laporan dari alumni GITS yang berasal dari Pulau Sabu. Mereka sudah tamat dan pulang kampung dan ingin bersama kekuarga mereka mendirikan gereja baru. Aneh sekali, gereja yang sudah ada duluan di pulau Sabu tidak setuju dan marah. Dan mereka mulai mengancam dengan kekerasan dan juga mau memakai kekuasaan pemerintah. Mereka berencana menjadi pengikut Kain, dan mengikuti jejak pendahulu mereka untuk menganiaya dengan tangan pemerintah. Nanti jika ada “Servetus” terbunuh, kemungkinan mereka akan berkata bahwa “Calvin” tidak terlibat, padahal jelas-jelas Calvin yang lapor dan suruh tangkap.

Sesungguhnya ada banyak sekali “Kain modern,” yang marah ketika melihat ada gereja lain berdiri di dekatnya. Mereka marah ketika “Habel” mempersembahkan domba, kok bukan ikut mereka mempersembahkan bayam atau mentimun. Seharusnya, mereka introspeksi pengajaran mereka, dan memperkuat anggota jemaat mereka dengan pengajaran dan nasihat, bukan dengan mengancam pihak lain dan memakai tangan pemerintah.

Ingat wahai Gembala manusia, orang yang jadi jemaat kita itu bukan domba kita yang kita cucuk hidung, melainkan domba Tuhan, Tuhanlah Gembala Agung pemilik domba yang sesungguhnya. Jangan ada yang berpikir dan bersikap seperti penjajah atas jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan. Saya berkata kepada anggota jemaat Graphe, jika kalian temukan ada gereja yang lebih benar dan lebih berkenan di hati kalian, silakan pindah. Dan jangan lupa kasih tahu saya karena saya juga mau ikut pindah.

Jakarta, 17 Des 2018
Dr. Suhento Liauw
<www.graphe-ministry.org>
Maranatha!