*SIKAP DENOMINASI GEREJA TERHADAP ALKITAB*

Belakangan ini denominasi gereja dalam kekristenan berkembang terus, tahun lalu menurut Google ada 45rb denominasi, sekarang jika kita search, maka akan dapatkan sudah 47rb denominasi. Sebuah perkembangan yang sangat pesat. Dan menimbulkan banyak pertanyaan, antara lain; bagaimana seseorang tahu denominasi yang manakah yang benar, dan bagaimanakah cara mendapatkan denominasi atau gereja yang benar?

Terus terang memang sulit, terlebih jika orang tersebut tidak berminat mendapatkan gereja yang benar pengajarannya. Banyak orang telah menancapkan mati imannya dan bertekad tidak akan berubah bahkan sekalipun dia tahu imannya menuju Neraka. Namun ada orang yang beriman secara logis, memakai akal budi sehingga mau menyelidiki dan mau mendapatkan yang LEBIH BENAR untuk diimani.

 

Berikut ini saya hanya paparkan sikap denominasi gereja TERHADAP ALKITAB untuk membedakan, dan Anda dipersilahkan untuk menilai, memilah-milah manakah yang mau anda imani dengan segenap akal budimu.

 

Saya sendiri adalah orang yang percaya Alkitab, 66 kitab, adalah satu-satunya firman Tuhan yang diinspirasikan Tuhan dan tidak ada kesalahan pada penulisannya, dan bisa ada kesalahan pada penyalinan dan penerjemahannya. Bagi saya Alkitab adalah pedoman satu-satunya untuk kehidupan iman pribadi maupun secara jemaat. Alkitab adalah otoritas tertinggi yang berposisi di atas gereja, semua pengajaran dan tindakan gereja harus tunduk kepada Alkitab.

 

*[1]. Katolik, Orthodox, Koptik, Cs.*

Mereka menempatkan posisi otoritas Alkitab di bawah otoritas gereja. Jadi, bagi mereka gereja memiliki otoritas lebih tinggi dari Alkitab, bahkan mereka mengajarkan bahwa Alkitab itu hasil dari usaha gereja mereka, bukan diinspirasikan oleh Roh Kudus kepada para penulis.

 

Konsekuensi dari sikap demikian ialah bahwa keputusan-keputusan pemimpin gereja, seperti Paus, Patriark, dan lain-lain tidak ada keharusan tunduk kepada Alkitab, karena posisi keputusan pemimpin gereja mereka lebih tinggi dari Alkitab. Keputusan-keputusan satu pemimpin demi satu pemimpin yang silih berganti akhirnya membentuk tradisi (Paradosis) dan tidak ada keperluan bagi mereka untuk menyesuaikan atau mengoreksi pengajaran mereka dengan Alkitab.

 

Pemimpin-pemimpin mereka ada yang mereka panggil Bapa Gereja, yang menyumbangkan pemikiran mereka, dan itu dipegang oleh umat mereka lebih tinggi dari pengajaran Alkitab, karena bagi mereka posisi gereja lebih tinggi dari Alkitab. Sebagai contoh, mereka mengajarkan pembaptisan bayi yang tidak diajarkan Alkitab, mengajarkan purgatori yang tidak diajarkan Alkitab, mengangkat imam bukan keturunan Harun yang berhak mengampuni dosa orang, bahkan mengangkat Maria sebagai Bunda Allah, yang tidak kita temukan di dalam Alkitab. Kesesatan terhebat ialah mereka mengajarkan jalan keselamatan melalui upacara Sakramen yang sama sekali tidak diajarkan Alkitab. Karena otoritas gereja di atas otoritas Alkitab, maka tidak ada keharusan bagi mereka untuk tunduk kepada Alkitab.

 

*[2]. Protestan Cs Yang Keluar Dari Katolik.*

 

Martin Luther mengendus ada kesalahan bahkan kesesatan di dalam gereja yang memposisikan otoritas Alkitab di bawah otoritas gereja. Tiap pemimpin gereja bisa menyumbangkan satu atau beberapa poin kesesatan, maka gereja semakin hari semakin jauh dari kebenaran. Akhirnya kaum Protestan menyerukan slogan SOLA-SCRIPTURA, bahwa gereja harus tunduk kepada Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi untuk menghindari kesesatan, dan dari tradisi yang semakin hari semakin menyimpang, yang ditambahkan oleh pemimpin-pemimpin gereja.

 

Sesungguhnya ini sudah benar, bahwa inilah yang sepatutnya menjadi sikap gereja. Karena sudah menetapkan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi maka selanjutnya sangat tergantung kepada penafsiran. Sangat amat disayangkan para Reformator gagal melihat poin yang sangat amat penting yaitu peran baptisan terhadap keselamatan. Seharusnya seseorang diselamatkan dulu, dan membuat pengakuan iman, kemudian baru dibaptis untuk menjadi murid Kristus. Karena kaum Protestan tetap melakukan pembaptisan bayi untuk mengkristenkannya, maka setelah beberapa generasi gereja dipenuhi kembali oleh orang-orang yang menjadi Kristen tanpa lahir baru.

 

Dan kemudian orang-orang yang tidak lahir baru itu menafsirkan Alkitab dan mengajar sehingga menghasilkan Theologi Liberal, Theologi Predestinasi, praktek keimamatan yang setengah-setengah seperti doa berkat, dan berbagai pengajaran yang menyimpang dari Alkitab. Ignatius de Loyola mendirikan Ordo de Jesuit, dan ia bertekad membawa pulang kaum Protestan kembali ke Katolik. Sekarang mereka sedang berbaris untuk masuk kembali ke Katolik setelah pemimpin dan jemaat tanpa lahir baru korban pembaptisan saat bayi, memenuhi gereja.

 

*[3]. Kelompok Anabaptis Yang Menjadi Baptis*

 

Kelompok Anabaptis, atau kelompok Pembaptis Ulang, adalah kelompok Kristen yang muncul sejak munculnya praktek pembaptisan bayi pada abad ke-3. Mereka tidak setuju pada pembaptisan bayi sehingga membaptis ULANG orang yang setelah dewasa bertobat, dan membuat pengakuan iman. Kelompok Anabaptis ini ketika memasuki zaman kebebasan, menamakan gereja mereka Gereja Baptis, kata ANA-nya dilepas.

 

Kelompok ini adalah yang paling ngotot bahwa Alkitab, yang terdiri dari 66 kitab dari kitab Kejadian sampai Wahyu, adalah satu-satunya firman Tuhan yang diinspirasikan, dan tidak ada kesalahan saat penulisannya. Dan kelompok ini menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara Literal, grammatical, Historical, Kontekstual.

 

Kelompok Baptis menempatkan otoritas Alkitab di atas gereja, pemimpin dan jemaat bisa menafsirkan Alkitab, dan tidak ada pihak yang boleh melihat hasil penafsirannya lebih tinggi dari Alkitab. Maka, hasil penafsiran bisa ditinjau ulang, didebat ulang, jika ada yang bisa memberikan hasil yang lebih sesuai SELURUH ayat Alkitab dan akal sehat, maka ikutilah yang lebih benar itu.

 

*[4]. Gereja Yang Mengejar Wahyu Luar Alkitab.*

 

Kelompok denominasi gereja-gereja yang tidak bisa terima bahwa pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu, bahwa Alkitab adalah KANON TERTUTUP. Mereka membuka diri memohon Roh Kudus memberikan mereka bahasa roh, mimpi, penglihatan, suara dan lain-lain. Mereka tidak terima bahwa hanya Rasul yang diberikan karunia melakukan mujizat, dan mereka juga meminta karunia melakukan mujizat seperti para Rasul.

 

Joseph Smith mengklaim didatangi malaikat, dan menghasilkan kitab Mormon, dan mendirikan Gereja Mormon. Kemudian, Gerakan Advent yang dimulai oleh William Miller dari Baptis, seorang yang sangat bersemangat menyongsong kedatangan Kristus (Advent), namun kemudian gerakannya dibajak oleh Ellen G. White yang mengklaim mendapat sekitar dua ribuan penglihatan dan mimpi, dan terbentuklah SDA (Seventh Day Adventist) yang ngotot menguduskan hari Sabat dan melakukan sebagian Taurat, karena mimpi dan penglihatan Ellen.

 

Tahun 1906 William Seymour, di Los Angeles, di Azusa Street 312, mengundang Roh Kudus, dan mereka semuanya berbahasa yang tidak jelas, bukan seperti yang di hari Pentakosta, melainkan seperti yang Tatung di Singkawang. Mereka kemudian mendapat mimpi, penglihatan dan mendengar suara, bernubuat, melompat-lompat, berguling-guling. Kelompok mereka ini sering mengklaim mendengar suara Tuhan secara langsung terhadap suatu hal yang mereka inginkan atau doakan.

 

Dari kelompok ini kemudian muncul ribuan kelompok denominasi, dan kelompok yang penuh dengan keanehan karena mereka mendengar suara Tuhan secara langsung, tanpa dasar Alkitab. Salah satu contoh ialah Jim Jones, (tahun 1964) yang selalu mendengar suara Tuhan, yang kemudian membunuh 909 pengikutnya dengan memberikan mereka minum racun sianida. (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Jim_Jones).

 

Intinya, kelompok ini tidak bisa terima bahwa pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu, dan sesudahnya tidak ada lagi proses pewahyuan, dan tidak ada lagi orang melihat Yesus, mendapat mimpi dari Tuhan melainkan hanya yang bunga tidur, tidak ada lagi penglihatan dari Tuhan melainkan hanya yang dari iblis, apalagi yang klaim dibawa ke Sorga dan Neraka. Mereka membuka diri untuk aktivis roh tanpa bisa membedakan roh yang merasuki mereka.

 

*KESIMPULAN*

 

Menilai sikap denominasi gereja dalam kekristenan, setelah saya mempelajari bahkan pernah mengalami sebagai aktivis di dalam mereka, maka saya dapatkan bahwa sikap kelompok Anabaptis, yang kemudian menjadi kelompok Gereja Baptis, adalah sikap yang paling tepat dan benar di hadapan Tuhan.

 

Kelompok [1] yang menempatkan otoritas Gereja di atas otoritas Alkitab, telah disesatkan oleh pemimpin gereja mereka yang silih berganti menambahkan pengajaran tidak alkitabiah menjadi tradisi-tradisi yang semakin menyesatkan gereja mereka. Karena sikap mereka bahwa Otoritas Gereja di atas Otoritas Alkitab maka itu berarti pengajaran atau ide pemimpin mereka lebih tinggi dari Alkitab.

 

Kelompok [2] sudah benar secara prinsip Sola-Scriptura, namun karena gagal menyingkirkan pembaptisan bayi, telah membuka pintu bagi penambahan anggota jemaat tanpa lahir baru yang dikristenkan sejak bayi. Dan selanjutnya orang-orang yang tidak lahir baru yang kemudian menafsirkan Alkitab, mengajarkan Alkitab, sehingga menghasilkan doktrin penghujatan bahwa Allah MENETAPKAN orang yang ke Sorga dan Neraka tanpa alasan (unconditional), Bahkan Menetapkan semua dosa, kebejatan, kejatuhan Adam bahkan Lucifer.

 

Kelompok [3] adalah kelompok Gereja Baptis yang tidak ikutan dalam kesesatan kelompok [1], melainkan membaptis ulang orang kelompok [1] yang bertobat setelah dewasa, sehingga mereka disebut ANABAPTIS (Pembaptis Ulang), dan kemudian di zaman kebebasan memberi nama gereja mereka Gereja Baptis. Gereja Baptis menjunjung tinggi Alkitab sebagai satu-satunya firman Tuhan yang tidak ada salah dan bersifat kanon tertutup artinya pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu. Gereja Baptis tidak percaya Tuhan masih turunkan WAHYU sesudah kitab Wahyu, dan tidak tidak percaya masih ada mimpi, penglihatan, suara, yang berasal dari Tuhan. Kelompok Baptis percaya mujizat masih ada karena Tuhan tidak pernah berubah, tetapi KARUNIA MEMBUAT MUJIZAT itu adalah karunia khusus untuk pembuktian kerasulan.

 

Kelompok [4] adalah kelompok yang percaya sesudah kitab Wahyu Tuhan masih menurunkan Wahyu, masih kirim malaikat, masih memberikan mimpi dan penglihatan, masih ada orang yang dibawa jalan-jalan ke Sorga dan Neraka. Mereka mendengarkan aba-aba dari Tuhan secara langsung, misalnya katanya disuruh menghardik Covid-19 dll. Bahkan banyak kelompok Kristen aneh muncul dari denominasi ini atas klaim karena mendengar suara Tuhan secara langsung. Bahkan ada kelompok yang sampai membunuh seluruh pengikutnya karena suara suruhan dari “Tuhan.”

 

Jadi, pembaca yang penuh hikmat, marilah menyalakan akal budi yang diberikan Tuhan, jangan beriman membabi buta. Sebab, saat nafasmu putus maka engkau segera ke Sorga atau Neraka, bukan pergi menghadap pengadilan dan bisa melakukan penyesalan lalu minta dipindahkan ke Sorga. Sekarang inilah, saat kita masih di dunia, Tuhan mau kita memutuskan BERIMAN kepada kebenaran atau kesalahan bahkan kesesatan. Tiap momen hidup kita ini dihadapkan pada pilihan, pilihan yang paling utama ialah mengenai masuk Sorga atau Neraka. Mau masuk Sorga, maka pilihlah beriman kepada kebenaran.

 

Jakarta, 2 Juni 2025

DR. SUHENTO LIAUW, D.R.E., TH.D.

<www.graphe-ministry.org>

<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>

YouTube: GBIA GRAPHE dan GBIA INDONESIA.

Maranatha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *