*SEJARAH KELAM BAPTISAN BAYI*

Ketika kita menelusuri sejarah tentang dimulainya pembaptisan bayi, kita akan mendapatkan bahwa sesungguhnya kesalahan itu terjadi disebabkan oleh kesalahpahaman tentang keselamatan bayi. Setelah kepergian para Rasul kembali ke surga, timbul kesimpangsiuran tentang nasib bayi yang meninggal.

 

*Memahami Doktrin Keselamatan Yang Benar*

Seharusnya menurut Roma 5:18-19, bahwa dosa yang disebabkan oleh Adam telah diselesaikan oleh Yesus Kristus.

 

_18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, *demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.*_ (Rom 5:18-19).

 

Ayat tersebut menyatakan karena kejatuhan Adam semua manusia keturunan Adam berada pada POSISI orang berdosa yang akan mendapat penghukuman. Jadi, posisi berdosa sang bayi itu hanya karena ia keturunan Adam, bukan karena ia sendiri melakukan dosa, karena bayi yang baru lahir mustahil melakukan dosa. Dan ayat tersebut menyatakan bahwa oleh pengorbanan Yesus Kristus yang dihukumkan menanggung dosa seluruh umat manusia, termasuk posisi berdosa yang disebabkan oleh Adam, maka posisi berdosanya bayi sudah terselesaikan atau terhapuskan. Jadi bisa disimpulkan bahwa seorang bayi atau yang lahir cacat mental, idiot, down syndrome, jika mereka mati maka mereka pasti masuk surga karena khasiat penghapusan dosa oleh kematian Kristus di kayu salib langsung diaplikasikan atas mereka. Kebenaran ini harus dipahami dengan sangat jelas dan tegas bahwa kategori mereka yang tersebut di atas jika mati pasti masuk surga tanpa perlu ada respon atau pertobatan dan iman dari mereka.

 

Sedangkan manusia yang tidak mati saat bayi, bertumbuh sampai usia akil balik, kemudian melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa bukan lagi karena ia keturunan Adam melainkan karena perbuatan dirinya sendiri sehingga ia menjadi orang berdosa. Kondisi berdosa manusia sesudah akil balik hanya bisa diselesaikan melalui bertobat dan mengimani bahwa Yesus Kristus TELAH dihukumkan menggantikannya menanggung semua dosanya. Setelah ia bertobat dan percaya, dan membuat pengakuan iman maka untuk MENYATAKAN IMANNYA ia perlu memberi diri dibaptiskan ke dalam air sambil disaksikan oleh orang-orang yang hadir.

 

*Kekacauan Konsep Keselamatan*

 

Dari pernyataan-pernyataan mereka terlihat bahwa Hipolitus adalah orang-orang awal yang menyimpang dalam konsep keselamatannya.

 

Kesalahpahaman tentang keselamatan bayi rupanya tercatat perkataan *HIPOLITUS yang hidup pada tahun (170-235 M)* – pada tahun 215 M, Ia menulis dalam _Tradisi Apostolik 21:16_

 

Bahasa Latin: _”Baptizentur parvuli primum. Si possunt respondere pro se, respondeant. Si non, parentes eorum vel aliquid ex familia eorum respondeat pro ipsis.”_

 

Terjemahannya: “Baptislah anak-anak kecil terlebih dahulu. Jika mereka bisa menjawab untuk diri mereka sendiri, biarlah mereka menjawab. Jika tidak, biarlah orang tua mereka atau seseorang dari keluarga mereka menjawab untuk mereka.”

 

*Kemudian IRENEUS (sekitar 180 M)* – Murid dari murid Rasul Yohanes dalam tulisannya, _Adversus Haereses II, 22,4_

 

Dalam bahasa Latin _”Omnes enim venit per semetipsum salvare: omnes, inquam, qui per eum renascuntur in Deum, infantes, et parvulos, et pueros, et juvenes, et seniores.”_

 

Terjemahannya: “Sebab Ia datang untuk menyelamatkan semua orang melalui diri-Nya sendiri: semua orang, kataku, yang dilahirkan kembali oleh-Nya bagi Allah, baik bayi, anak kecil, anak-anak, pemuda, maupun orang lanjut usia.”

 

Walau agak samar namun menurut para Pembaptis Bayi bahwa frasa “dilahirkan kembali” (renascuntur) di zaman itu selalu berarti baptisan. Mereka mengklaim bahwa sejak zaman Ireneus pembaptisan bayi telah dilaksanakan. Dan kita dengan sangat jernih bisa melihat bahwa seandainya itu telah dilaksanakan maka itu adalah atas kesalahpahaman terhadap konsep keselamatan bahwa bayi perlu dibaptis agar mendapatkan kepastian masuk surga.

 

*Tentang ORIGENES (248 M)* – terdapat 2 kutipan paling terkenal:

 

a) _Komentar Surat Roma 5,9:_

 

Bahasa Latin: _”Ecclesia ab apostolis traditionem accepit etiam parvulis baptismum dare.”_

Terjemahannya: “Gereja telah menerima tradisi dari para Rasul untuk memberikan baptisan bahkan kepada bayi-bayi kecil.”

 

b) _Homili Imamat 8,3:_

 

Bahasa Latin: _”Parvuli baptizantur in remissionem peccatorum.”_ terjemahannya: “Bayi-bayi dibaptis untuk pengampunan dosa-dosa.”

 

Nah, terlihat jelas bahwa terjadi kesalahpahaman bahwa bayi-bayi perlu mendapatkan pengampunan Dosa melalui pembaptisan. Padahal di atas sudah kita bahas bahwa dosa yang disebabkan oleh Adam sesungguhnya telah diselesaikan oleh Yesus Kristus Rom. 5:18-19. Mereka mengatasnamakan rasul untuk pembenaran kesesatan mereka padahal kita tidak temukan sedikitpun indikasi bahwa para Rasul mengajarkan bayi perlu dibaptis agar bisa masuk surga. Dan tidak ada indikasi sedikitpun bahwa ada bayi yang dibaptis sejak Yohanes Pembaptis sampai rasul terakhir.

 

*Tercatat sejarah bahwa TERTULIANUS (160-220 M)* adalah orang yang paling pengajaran dan prinsipnya benar, dia mengkritik mereka yang membaptis anak-anak yang belum bisa bertanggung jawab. Ketika Origines membaptis anak-anak pada tahun 202 M, Tertulianus menegurnya, mengatakan bahwa seharusnya menunggu sampai mereka bisa bertanggung jawab, dia berkata, “tunda dulu sampai mereka besar”.

 

Dalam tulisannya _De Baptismo 18:_

 

Bahasa Latin: _”Itaque pro cuiusque personae condicione ac dispositione, etiam aetate, cunctatio baptismi utilior est; praesertim circa parvulos.”_

Terjemahannya: “Oleh karena itu, penundaan baptisan lebih berguna sesuai dengan kondisi dan watak serta usia setiap orang, terutama untuk anak-anak kecil.”

 

*Dan pada tahun 252 AD, Cyprianus* mengumpulkan sekitar 66 Bishop di kota Carthage, melakukan konsili dan mereka memutuskan bahwa bayi HARUS segera dibaptis agar jika sang bayi mati ia akan masuk surga. CYPRIANUS adalah orang yang menyebabkan kesesatan pembaptisan bayi meluas.

 

Ketika Konstantin menjadi Kaisar, terlebih setelah ia mengumumkan dirinya Kristen, dan memunculkan konsep Gereja Roma Raya yang terkendali oleh Kekaisaran, maka semua bayi yang lahir HARUS dikristenkan dengan membaptis mereka.

 

*Kelompok Anabaptis*

 

Puji Tuhan, ada orang-orang seperti Tertulianus dan tentu dia tidak sendirian, yang dengan teguh mempertahankan kebenaran bahwa baptisan hanya bisa dilakukan terhadap orang yang sudah bisa mengambil keputusan untuk bertobat dan percaya. Mereka tidak setuju bahwa baptisan terhadap bayi bertujuan agar si bayi bisa masuk surga karena masuk surga hanya melalui bertobat dan percaya bagi yang sudah bisa bertobat dan percaya, sedangkan bagi yang belum bisa bertobat dan percaya, yaitu yang masih bayi, yang cacat mental, idiot, down syndrome, akan menerima karunia keselamatan langsung tanpa perlu respon mereka.

 

Kelompok yang tidak setuju pembaptisan bayi melakukan PEMBAPTISAN ULANG terhadap orang-orang yang pernah dibaptis saat bayi yang setelah dewasa berhasil mereka injili, dan membuat pengakuan iman. Tindakan pembaptisan ulang dalam bahasa Yunani adalah ANA-BAPTIZE, sehingga kelompok ini dikenal dengan julukan Anabaptis. Orang sering bertanya, kapankah Anabaptis mulai eksis? Dan sering disalahpahamkan bahwa mereka mulai abad ke-16, padahal mereka mulai sejak munculnya pembaptisan yang salah yang menyebabkan sejumlah orang merasa perlu melakukan pembaptisan ulang. Tercatat di kisah para rasul pasal 19 rasul Paulus adalah Anabaptis pertama, yang melakukan pembaptisan ulang atas 12 orang, yang menurut pengakuan mereka saat dibaptis oleh Yohanes mereka belum mengerti kebenaran, bahwa mereka belum pernah mendengar tentang Roh Kudus.

 

Kelompok Anabaptis tenggelam ke bawah tanah, atau menghilang dari permukaan, setelah gereja-gereja pembaptis bayi yang tentu adalah berisikan Kristen palsu yang tidak lahir baru, yang kemudian berkolaborasi dengan raja, ratu, pangeran untuk menganiaya kelompok yang membaptis ulang orang yang pernah mereka baptis saat bayi. Terlebih ketika Konstantin menjadi Kaisar bahkan setelah mengumumkan dirinya menjadi Kristen, yang kemudian muncullah gereja Konstantin yaitu Gereja Roma Universal yang tercatat sejarah menganiaya kelompok Anabaptis sepanjang lebih dari 1000 tahun.

 

*KESIMPULAN*

 

Sungguh tidak bisa disangkal bahwa munculnya PEMBAPTISAN BAYI adalah karena kesalahan memahami konsep keselamatan yang muncul sesudah kepulangan para Rasul ke surga. Mereka gagal paham bahwa dosa seisi dunia dari Adam sampai manusia terakhir telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, sehingga implikasinya bayi, anak idiot, cacat mental, down syndrome, jika mati maka mereka pasti masuk surga, sedangkan yang mencapai umur dewasa dan telah melakukan dosa atas kesadaran dirinya, perlu mendengar Injil, bertobat dan mengimani pengorbanan Kristus untuk penghapusan dosanya.

 

Kesalahan pembaptisan bayi demi keselamatan bayi adalah kesalahan fatal bahkan adalah kesesatan karena MENYIMPANGKAN jalan keselamatan yang seharusnya melalui pertobatan dan iman menjadi melalui upacara pembaptisan. CAMKANLAH hal ini baik-baik. Jika bayi perlu dibaptis agar mati bisa masuk surga, berarti anak idiot, anak cacat mental, anak yang lahir down syndrome, agar mereka juga bisa masuk surga perlu dipaksa dibaptis tanpa kesadaran mereka. Anda setuju pembaptisan anak-anak idiot, cacat mental, down syndrome?

 

Ketika Protestan dan Reformed beserta teman-teman mereka keluar dari Gereja Konstantin, mereka sambil berseru-seru Sola Fide yang artinya keselamatan hanya melalui iman, namun mereka tetap membawa keluar praktek pembaptisan bayi yang tujuan originalnya adalah untuk keselamatan bayi. Tindakan mereka ini sulit untuk dijelaskan sehingga terjadi banyak kesimpangsiuran penjelasan tentang tujuan Pembaptisan Bayi yang mereka lakukan sekarang. Dan praktek pembaptisan bayi telah menyebabkan generasi-generasi berikut jemaat mereka menjadi orang-orang Kristen yang hanya nama saja tanpa lahir baru bahkan tanpa iman yang jelas karena sudah Kristen sejak dibaptis bayi.

 

Semoga melalui artikel ringkas ini mata pencari kebenaran bisa terbuka dan setitik terang ini bisa menuntun orang yang tersesat di hutan menemukan jalan keluar menuju ke kota terang, dan sebelum masuk Sorga bisa berkumpul di gereja yang benar, alkitabiah.***

 

Jakarta, 11 Oktober 2026

Dr. Suhento Liauw, DRE., TH.D.

<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>

<www.graphe-ministry.org>

YouTube: GBIA GRAPHE & GBIA INDONESIA.

Maranatha!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *