Kita sering membaca ayat yang berbunyi KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI, dan ada orang Kristen yang kebingungan dalam bersikap. Terlebih ketika membaca Mat. 25:31-46, ada kesan bahwa melakukan kebaikan kepada orang-orang susah itu sudah sama dengan melakukannya untuk Tuhan, “Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (ayat 45)
Standard Tetinggi
Tuhan mengajarkan moral kepada makhluk bermoral yang diciptakanNya dengan berbagai cara dan berbagai tingkatan. Di zaman PL sepuluh hukum (Decalog) diberikan sebagai standard moral. Dan ketika Tuhan datang ke bumi, pada saat khotbah di bukit, Matius pasal 5 sampai 7, Tuhan mengumumkan standard moral baru yang berbasis pada hati. Jadi, perzinahan itu bukan lagi secara fisik, melainkan ketika hati menginginkan, itu sudah terjadi perzinahan. Kesimpulannya tidak ada manusia yang tidak berzinah, mencuri, membunuh dan sebagainya secara hati. Maka, kebutuhan manusia akan Juruselamat yang bisa menyelamatkannya dari penghukuman itu mutlak dan urgent.
Lalu, sikap antar sesama manusia bagaimana? Kata Tuhan, manusia harus mengasihi sesamanya seperti diri sendiri (Mat.22:39), dan Tuhan juga mengatakan, bahwa manusia harus melakukan kepada manusia lain hal yang ingin dilakukan manusia lain kepada dirinya (Mat.7:12). Maksud Tuhan, ketika manusia memerlukan standar moral sebagai patokan antar manusia, maka dirinya sendiri bisa dijadikan standar. Semua manusia mengharapkan perlakuan baik terhadap dirinya, semua manusia ingin dikasihi, semua manusia merindukan hal yang baik untuk dirinya, maka begitu juga sesamamu manusia lain.
Apakah Orang Miskin Bisa Sebagai Pengganti Tuhan?
Ada orang setelah membaca Mat. 25:31-46, sampai berpikir bahwa dia mengunjungi orang miskin di pinggir kali, di daerah kumuh, atau membezuk orang sakit, itu telah dilakukannya untuk Tuhan. Sebenarnya kunci perikop tersebut ada pada ayat 46, dan pada kata ORANG BENAR. ”Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi ORANG BENAR ke dalam hidup yang kekal.”
Pertama, perlu bedakan antara ORANG BENAR dan ORANG BAIK. Benar itu berhubungan dengan doktrinal, sedangkan baik itu berhubungan dengan moral. Orang benar adalah orang yang beriman kepada pengajaran yang benar sehingga dia dilahirkan kembali menjadi anak Allah, dan sekaligus menjadi ORANG BENAR karena semua dosanya telah ditanggung oleh Yesus Kristus. Sedangkan orang baik adalah orang yang sering bertindak baik, membantu, menolong, dan penuh kasih kepada sesama manusianya.
Orang benar adalah orang yang pasti akan masuk Sorga, sedangkan orang baik tidak bisa masuk Sorga, karena orang yang sebaik apapun ia pasti ada dosa sedangkan orang berdosa tidak bisa masuk Sorga karena Sorga adalah tempat yang maha kudus. Orang baik yang ingin masuk Sorga harus bertobat, yaitu mengaku dirinya orang berdosa walau hanya satu dosa dan mengaminkan kematian Kristus di salib adalah untuk menanggung hukuman dosanya.
Jadi, daftar dalam Matius 25:31-46 itu adalah perbandingan perbuatan ORANG BENAR dengan perbuatan orang biasa. Kita semua setuju bahwa orang benar akan menghasilkan perbuatan kebenaran. Ketika orang benar melakukan perbuatan kebenaran itu menyenangkan hati Tuhan, membahagiakan Tuhan. Tentu berbeda dari perbuatan yang langsung dilakukan kepada Tuhan. Ketika Maria menuangkan minyak yang sangat mahal ke tubuh Tuhan, dan mengelap kaki Tuhan dengan rambutnya, ada murid Tuhan yang berkomentar, mengapa minyak wangi itu tidak dijual saja dan disumbangkan kepada orang miskin? Lalu kata Tuhan, Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. 11 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” Tuhan tegas membedakan perlakukan yang Langsung kepadaNya dengan yang dilakukan kepada orang miskin yang memang menyenangkan hatiNya.
Apakah zaman Tuhan Yesus hadir di bumi ada orang miskin di Israel? Oh pasti banyak sekali. Adakah Tuhan mengunjungi rumah mereka, merenovasi rumah mereka, dan membawa sembako? Adakah para Rasul ketika ke pasar membeli makanan juga sekalian beli untuk tetangga mereka? Adalah banyak penafsiran Alkitab yang jika kekurangan hikmat maka hasilnya mengacaukan. Karl Marx mendirikan ideologi Komunisme Itu dari membaca ayat-ayat Alkitab, namun ia menafsirkannya secara salah.
Menyelesaikan Masalah Orang Miskin
Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah orang miskin ialah mencari tahu mengapa bisa ada orang miskin? Kita tahu bahwa sejak kejatuhan manusia Tuhan berkata kepada Adam bahwa hukumannya ialah bahwa ia akan bersusah payah mencari makan, ini efek dari kejatuhan manusia. Jadi, ada orang yang betul-betul berjuang bersusah payah sehingga dia hidup berkelimpahan bahkan bisa mewariskan hartanya kepada anak cucunya. Ada orang yang bermalas-malasan sehingga bukan hanya dirinya sendiri yang hidup kekurangan, tentu tidak ada apa-apa untuk diwariskan kepada keturunannya. Memang benar bahwa ada orang yang hidup susah karena kecelakaan, karena bencana alam, karena politik, atau karena kesalahan orang lain. Kita akan kelelahan menolong orang susah yang malas, atau yang sengaja merusak hidupnya sendiri. Di trotoar jalanan San Francisco ada banyak yang sakau, apakah ada orang Kristen yang mau belikan mereka narkoba? Bahkan ada seorang Gubernur berkata bahwa penerima Bansos itu si suami harus di-vasektomi, ini sangat benar agar tidak sambil menerima bantuan sosial pemerintah sambil produksi anak. Tetapi ternyata Gubernur itu ditentang oleh pemuka agama yang menghendaki umatnya produksi anak sebanyak-banyaknya demi penambahan umat. Apakah ada orang Kristen yang setuju untuk ikut membiayai seseorang yang tidak bekerja tetapi punya istri tiga dengan anak delapan?
Kekristenan adalah program Tuhan untuk memperbaiki kehidupan manusia melalui perbaikan hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta, melalui bertobat dan mengaminkan Yesus yang menggantikan umat manusia dihukumkan. Yesus Kristus tergantung di kayu salib menanggung KUTUK DOSA, dan setiap orang yang percaya kepadaNya akan terlepas dari kutuk dosa. Selanjutnya Tuhan melalui Alkitab firmanNya memberikan prinsip-prinsip kehidupan menuju kehidupan yang indah bahagia. Rasul Paulus menulis kepada orang Tesalonika, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2Tes.3:10). Seharusnya ketika kebenaran dari ayat ini diajarkan dan ditegakkan, maka tidak ada orang miskin.
Ronald Reagan bercerita, suatu hari dia bertemu satu keluarga dengan seorang putri sekitar sepuluhan tahun. Reagan tanya, kamu besar nanti mau jadi apa? Anak itu jawab, mau jadi Presiden. Reagan bilang, bagus. Apa yang kamu cita-cita lakukan setelah jadi presiden? Anak itu jawab, saya mau memperhatikan orang-orang miskin. Terus Reagan bilang, untuk memperhatikan orang miskin tidak perlu tunggu jadi presiden, sekarang pun bisa. Besok kamu ke rumah saya, potong rumput halaman rumah saya, dan saya kasih kamu 100 dollar, dan saya bawa kamu ke jalanan depan supermarket, di situ ada orang-orang yang duduk minta-minta, dan berikan hasil kerja kamu kepada mereka. Anak itu menjawab, ohh mengapa bukan mereka saja yang potong rumput dan dapat uang dari bapak? Reagan tersenyum sambil berkata, Welcome to the Republican Party, dan ayah anak itu kurang senang. Partai Democrat AS mau pajakin orang kaya dan bagi-bagi duit kepada orang miskin, sedangkan Partai Republic mau semua orang bekerja. Anda lebih setuju kepada yang mana?
Masalah kemiskinan itu sesuatu yang melekat pada sifat kemanusiaan yang tidak bisa diselesaikan. Pemerintah yang baik bisa merawat orang-orang cacat, orang-orang yang terkena bencana, intinya orang-orang yang susah bukan karena kesalahannya sehingga tidak bisa menghidupi dirinya, seperti anak-anak Yatim-piatu, janda miskin yang tidak punya anak. Rasul Paulus menulis bahwa uang jemaat jangan dipakai untuk janda yang punya anak, dan ia mengatakan bahwa anak-anak harus memperlihatkan sikap bakti kepada orang tua mereka.
1 Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegurlah orang-orang muda sebagai saudaramu, 2 perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian. 3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. 9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami 10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan–pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik. 11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin 12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya. 13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda. (1Tim.5:1-16).
Coba dibaca dan dicermati, Tuhan mau murid-muridNya berhikmat dalam kehidupan di bumi. Tuhan mau berkat yang diberikanNya kepada anak-anakNya, tidak dihamburkan secara salah. Tuhan mau berkatNya bahkan TIDAK dipakai menolong janda jemaat yang ada anak cucu, apalagi untuk janda dan orang miskin di luar sana yang tidak mau menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Kepada semua orang baik kaya maupun miskin, pertolongan dan pernyataan kasih yang paling utama ialah memberitakan Injil kepada mereka agar mereka BERDAMAI dengan Allah, kemudian barulah akan hidup dalam pemeliharaanNya. Jika mereka atau siapapun yang menolak kasih karunia dalam Yesus Kristus, mereka ada di bawah kutuk dosa, dan bukan cuma akan hidup susah dan miskin bahkan pasti akan berakhir di Neraka.
Kesimpulan
Konsep bahwa menolong orang miskin itu sama dengan telah menolong Tuhan atau berbuat kebaikan kepada Tuhan bahkan berkembang menjadi orang miskin adalah Tuhan, bukan ajaran Alkitab. Orang Kristen yang mengerti kebenaran akan memberikan persepuluhan untuk keberlangsungan sebuah jemaat, dan dengan jemaat yang eksis maka Injil bisa terus diberitakan dan kebenaran alkitabiah bisa dijaga. Selain persepuluhan, orang Kristen harus ikut mendukung pemberitaan Injil, karena hanya jika mereka berdamai dengan Allah, barulah segala urusan kehidupan mereka akan dipimpin Tuhan.
Orang-orang miskin yang kita jumpai perlu kita telusuri penyebab kemiskinan mereka, dan hal yang paling utama ialah beritakan Injil kepada mereka. Jika bisa tahu penyebab kemiskinan mereka, mungkin kita bisa menolong mereka mengatasi penyebab itu. Memegang prinsip memberi mereka pancing lebih baik daripada memberi ikan, karena pancing bisa dipakai berulang-ulang sedangkan ikan hanya satu kali makan. Dan jika kemampuan kita terbatas maka kita harus memilih kelompok manusia yang paling layak kita tolong. Itulah sebabnya saya sudah mendirikan dua panti asuhan yatim-piatu, karena menurut penilaian saya, anak-anak yatim-piatu adalah kelompok orang yang paling layak diprioritaskan ditolong, mereka tidak memilih menjadi yatim-piatu, dan keadaan mereka sepenuhnya bukan kesalahan mereka.
Jakarta, 25 November 2025
DR. SUHENTO LIAUW, D.R.E., TH.D.
<www.graphe-ministry.org>
<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>
YouTube: GBIA GRAPHE & GBIA INDONESIA.
Maranatha.