Ibadah Simbolik VS Hakekat

Ibadah diperlukan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Allah sendiri yang mendirikan ibadah, yaitu org berdosa mempersembahkan domba di atas mezbah, sebuah ibadah simbolistik sederhana. Tentu domba adalah simbol Sang Juruselamat yang akan dihukumkan menanggung hukuman dosa manusia. Seterusnya dlm seluruh kitab PL mengajarkan sistem ibadah simbolistik, ritualistik, jasmaniah (SRJ). Penyembahan dalam bentuk simbol, dengan berbagai ritual, dan secara jasmaniah.

Ketika Tuhan Yesus datang, dan diperkenalkan oleh Yohanes, maka Dialah Sang Hakekat dari semua ibadah simbolistik, ritualistik, jasmaniah (SRJ) Perjanjian Lama (Ibr.10:1). Dan Tuhan mengajarkan ibadah yang Hakekat, Rohaniah, dalam KEBENARAN (HRK) (Yoh 4:23). Ibadah HRK tidak dibatasi waktu, tempat dan sikap postur tubuh, karena ibadah HRK dilakukan dgn hati, bukan badan. Tuhan berkata kepada perempuan Samaria bahwa saatnya akan datang, dan TELAH tiba bhw penyembah Allah yang benar menyembah dalam roh dan kebenaran, artinya tidak dilakukan di atas bukit Gerizim dan juga tidak di Bait Allah Yerusalem.  Itulah sebabnya tidak diperlukan tempat khusus beribadah dan kekristenan tidak ada tempat suci atau holyland, dan harus ibadah satu hari sekian kali, serta sikap postur tubuh yang membungkuk, krn ibadah HRK dilakukan dgn hati bukan dengan badan. Sejak dihentikannya ibadah SRJ  Perjanjian Lama (Luk. 16:16), maka Tuhan mau manusia masuk ke dalam sistem ibadah HRK.

Penekanan selanjutnya adalah pada kesucian hati, bukan badan, oleh sebab itu tidak ada lagi sesuatu yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan. Aturan hari Sabat dihapuskanNya karena ibadah HRK yang dilakukan dengan hati tidak lagi terikat waktu.

Implikasi lain dari perubahan ibadah Simbolistik Ritualistik Jasmaniah (SRJ)  menjadi hakekat rohaniah kebenaran (HRK), ialah bahwa tidak ada lagi tempat khusus ibadah, waktu khusus ibadah, dan sikap postur tubuh khusus ibadah. Hari Minggu orang Kristen berkumpul itu bukan untuk beribadah, melainkan berjemaat.  Seharusnya tidak ada istilah masuk ke dalam penyembahan, dan tidak ada perintah angkat tangan untuk menyembah, karena kita menyembah dengan hati, bukan dengan tangan atau tubuh.

Aneh sekali kalau ada istilah lagu penyembahan, apa maksudnya?  Kekristenan alkitabiah berbeda sekali dari perdukunan, kekristenan menekankan KEBENARAN, yaitu sesuatu yang dicapai melalui akal budi. Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi.

Terlihat jelas bahwa sebagian orang Kristen terpengaruh konsep Yudaisme dan Islam yang masih dalam sistem ibadah SRJ sehingga menyebut acara berjemaat sebagai ibadah.  Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan Alkitab atas pengaruh tsb. Contoh, Ibr. 10:25, tanpa ada dasar dalam teks bhs Yunaninya, ditambahkan kata ibadah.

Kata eusebeian yang dalam KJV diterjemahkan dengan kata godliness, oleh  LAI diterjemahkan dengan kata ibadah yang seharusnya diterjemahkan dengan kata KESALEHAN. (Contoh: Titus 1:1)

Mungkin ada yang berkata, ah itu tidak apa-apa, itu urusan kecil.  Namun jika orang Kristen memahami kebenaran dan menerapkan kebenaran maka efeknya akan sangat positif. Sebagai contoh, seharusnya org Kristen membangun gedung untuk pertemuan jemaat, bukan gedung untuk ibadah, maka seharusnya tidak membutuhkan ijin membangun rumah ibadah melainkan gedung pertemuan. Pernah ada polisi datang pada saya bertanya, apakah di rumah ini ada acara ibadah, ya saya jawab tidak ada. Kemudian dia berkata, saya dengar ada nyanyi-nyanyi.  Saya jawab memang ada nyanyi-nyanyi, tetapi bukan ibadah. Singkat cerita, saya menjelaskan kepadanya bahwa orang Kristen itu beribadah dengan hati, dan itu terjadi setiap saat, di setiap tempat. Ibadah kami sifatnya rohaniah, bukan jasmaniah, sangat berbeda dengan ibadah orang Islam yang jasmaniah.  Di negara demokratis logis tidak ada hukum yang melarang rakyatnya berkumpul dalam damai. Berkumpul, bernyanyi, mempelajari Alkitab bukanlah aktivitas yg memerlukan ijin, dan juga BUKAN IBADAH.

Tuhan berkata bahwa anggur baru jangan ditaruh ke dalam kirbat yang lama, dan kain baru jangan ditambalkan pada baju yang usang. Islam, Yudaisme, dan berbagai agama pada umumnya beribadah secara simbolistik, ritualistik, jasmaniah. Tidak ada agama yang seperti kekristenan.  Tuhan berkata,  “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”(Mat. 5:20). Sifat kebenaran ahli Taurat dan Farisi masih simbolistik, ritualistik dan jasmaniah, mereka harus mengerti ibadah yang hakekat rohaniah dalam kebenaran.

Selanjutnya Tuhan dalam khotbah di bukit merubah penekanan jasmaniah (PL) ke HATI (PB), contoh berzinah secara jasmaniah ke berzinah secara hati.

Perlu tempat kumpul, bukan tempat ibadah

(1) . Tempat Kudus, tanah suci/Kudus (holyland), semua istilah itu di PL, zaman ibadah lahiriah.
Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.” (Yoh. 4:21), bukan di gunung ini dan juga bukan di Yerusalem, dan kasih tahu teman Advent JUGA BUKAN HARI SABAT.

Ibadah PB ialah ibadah yang tidak dibatasi lokasi. Dan tentu tidak juga dibatasi waktu, oleh sebab itu peraturan hari Sabat ditiadakan. Dan juga tidak perlu ada aturan postur tubuh oleh sebab itu tidak perlu sujud badan melainkan sujud hati. Ibadah  zaman PB adalah dengan hati. Istilah holyland hanya kebutuhan perusahaan travel-tour.

(2) . Kita perlu tempat bukan untuk ibadah tetapi untuk pertemuan jemaat. Tempat untuk belajar dll, bukan untuk ibadah, karena ibadah Kristen zaman PB terjadi setiap saat, tidak di satu tempat. Istilah ibadah adalah istilah dari agama yang bersifat lahiriah. Di kitab PB pakai istilah berjemaat, kumpul berjemaat atau pertemuan jemaat.

Ayat2 Alkitab memakai istilah Pertemuan jemaat. Bukan ibadah. Sekali lagi istilah ibadah itu pengaruh Muslim, krn istilah ini yang dipakai oleh pejabat ketika menyinggung tempat “ibadah” semua agama, dipukul rata. Tetapi apa kata Alkitab? LAI Memakai kata ibadah dlm Alkitab bahasa Indonesia karena terpengaruh.

Act 14:27 Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.

Act 15:30 Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka.

1Co 11:18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.

1Co 14:23 Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?

Istilah yang benar ialah PERTEMUAN JEMAAT bukan ibadah.

1Co 14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

1Co 14:28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.

1Co 14:34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.

1Co 14:35 Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak kebenaran alkitabiah, silakan berkunjung ke
<www.graphe-ministry.org>
<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>

Dr. Suhento Liauw.
Maranatha!

Leave a Reply

Your email address will not be published.