MENGAPAKAH PERLU DIBAPTISAN ULANG?

Banyak orang mempertanyakan tindakan pembaptisan terhadap orang yang sudah pernah dibaptis. Kata ANABAPTIS memang mempunyai arti BAPTIS ULANG. Namun sesungguhnya bukan baptis ulang melainkan dibaptis secara Alkitabiah, karena baptisan yang diterima sebelumnya salah sehingga sesungguhnya orang tersebut belum dibaptis.

Mengapakah bisa ada pembaptisan yang salah yang dianggap sesungguhnya orang tersebut belum dibaptis?

Sebelumnya kita perlu tahu bahwa baptisan yang Tuhan kehendaki itu yang bagaimana:

[1]. Pembaptisan harus terhadap orang yang TELAH BERTOBAT dan PERCAYA. Kata Yohanes Pembaptis bahwa dia membaptis mereka sebagai tanda pertobatan. Tidak mungkin tanda pertobatan dipakaikan pada orang yang tidak bertobat. Dan bukan hanya bertobat melainkan juga harus sudah percaya kepada Yesus Kristus. Tanya Sida-sisa kepada Filipus, apa halangannya dia dibaptis? Atau apa syaratnya dia dibaptis? Jawab Filipus jika tuan PERCAYA dengan segenap hati. Berarti selain bertobat perlu percaya dengan segenap hati. Mustahil seorang bayi satu minggu bisa bertobat dan percaya dengan segenap hati. Baptisan bayi itu sesuatu yang sangat salah yang dipertahankan berabad bahkan beribu tahun. Mengapa sangat dipertahankan? Dan siapa yang sangat mempertahankannya? Mengapakah mereka membakar hidup-hidup orang yang cuma mengritik pembaptisan bayi? Kekuatan apa yang berada di balik pembaptisan bayi itu? Orang yang berhikmat pasti tahu siapa di balik semua KEKEJAMAN itu.

[2]. Pembaptisan harus dengan cara yang benar. BAPTIZO itu artinya masuk ke dalam air, silakan tanya pada orang Yunani, bukan kepada orang Swiss atau Perancis. Kalau percik bahasa Yunaninya ialah RANTIZO. Jadi, kalau seseorang cuma di percik dengan air itu artinya ia sudah dirantis, namun belum dibaptis ke dalam air. Gereja Orthodox Yunani saking tahu bahwa harus dimasukkan ke dalam air, sampai bayi pun mereka masukkan ke dalam air. Mereka sudah benar caranya, namun sayang salah pada obyeknya. Bayi yang tidak boleh dibaptis itu mereka baptiskan, karena mereka mewarisi kesalahan itu dari Roma Katolik. Jadi, caranya harus masuk ke dalam air. Tidak ada keharusan di sungai Yordan, karena Rasul Paulus saja tidak dibaptis di sungai Yordan melainkan di Damsyik. Orang Korintus dibaptis di Korintus, orang Filipi dibaptis di Filipi, mereka yang mengajarkan bahwa baptis di sungai Yordan ada poin lebih itu telah memistiskan baptisan.

[3]. Dilaksanakan oleh GEREJA YANG ALKITABIAH. Kelompok SSJ juga membaptis, tetapi itu bukan gereja alkitabiah. Gereja alkitabiah itu artinya gereja yang doktrinnya SESUAI Alkitab. Doktrin Keselamatannya (Soteriology) harus alkitabiah tidak boleh ada penambahan dan pengurangan Injil.

Doktrin ALKITABNYA (Bibliology) juga harus alkitabiah tidak boleh ada penambahan dan pengurangan firman Tuhan. Alkitab satu-satunya firman Tuhan. Tidak ada lagi firman Tuhan dalam mimpi, penglihatan, bahasa lidah, bisik-bisik dll. Gereja yang masih percaya adanya bisikan dari Tuhan, masih ada penglihatan dari Tuhan, apalagi yang bisa dibawa ke Sorga dan Neraka, dan yang percaya masih ada mimpi dari Tuhan TIDAK MUNGKIN ALKITABIAH.

Dan Doktrin Gerejanya (Ecclesiology) harus alkitabiah. Gereja yang alkitabiah tidak boleh yang bersifat universal melainkan harus yang lokal. Gereja universal sesungguhnya adalah gereja yang iblis dirikan untuk menipu orang Kristen yang tulus sehingga menjadi segan dan tidak berani menyatakannya salah.

Sebuah gereja bisa disebut gereja alkitabiah apabila tiga doktrin utama kekristenan, yaitu Soteriology, Bibliology dan Ecclesiology-nya sesuai Alkitab.

Baptisan yang alkitabiah harus memenuhi tiga unsur di atas, yaitu:

1. ORANGNYA sudah benar,
2. CARANYA benar, dan
3. GEREJANYA benar.

Kalau belum memenuhi tiga unsur tersebut, dan yang bersangkutan ingin menjadi murid yang PATUH, maka dia harus memberi dirinya untuk dibaptis secara benar.

Tanya jawab:

Tanya 1:
Bukankah baptisan tidak menyelamatkan, mengapa begitu “picky,” sampai perlu diulang?

Jawab 1:
Semua baptisan yang tidak memenuhi TIGA UNSUR BENAR tersebut sesungguhnya yang bersangkutan BELUM DIBAPTIS. Baptisan memang tidak untuk keselamatan, melainkan untuk menjadi murid. Oleh sebab itu yang sedang sakit tidak perlu dibaptis karena kondisinya belum bisa jadi murid. Tunggu dia sembuh dan kondisinya sudah bisa jadi murid barulah dia dibaptis. Sebagai murid Tuhan yang taat, kita mau taat juga dalam hal BAPTISAN sekalipun bukan untuk keselamatan.

Tanya 2:
Saya sudah dibaptis dalam nama Tritunggal, apa saya tidak main2 kalau dibaptis ulang?

Jawab 2:
Faktor yang membuat baptisan jadi benar itu bukan karena pakai nama Tritunggal, malahan jika dilaksanakan secara salah berarti telah menyalahgunakan nama Tritunggal. Kalau kamu suruh anak kamu ke perusahaanmu PAKAI NAMAMU suruh besok semua karyawan masuk satu jam lebih awal, ehh dia PAKAI NAMAMU suruh besok karyawan tidak perlu masuk, libur. Jadi, pakai nama secara salah, bukan terpuji melainkan tercela.

Tanya 3 :
Apakah bayi perlu dibaptis?

Jawab 3 :
Karena baptisan bukan untuk masuk Sorga, maka bayi tidak perlu dibaptis. Bayi, dan mereka yang lahir idiot, yang down-syndrome, mereka pasti masuk Sorga karena dosa Adam telah diselesaikan Kristus. Bayi adalah kelompok orang yang belum berbuat dosa dari kesadaran diri mereka, mereka langsung menerima khasiat penebusan Kristus tanpa perlu bertobat dan percaya. (Rom. 5:18-19).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.