PERJALANAN ROHANI MANUSIA PENCARI KEBENARAN

Jika seorang yang tinggal di hutan, ia penyembah batu dan pohon, tetapi hatinya MENCARI KEBENARAN, maka dia akan bertemu dengan agama. Ia akan bertemu dengan agama yang mengajarkan tentang adanya Tuhan, Pencipta alam semesta.

Tuhan janji jika seseorang MEMPUNYAI, akan diberi sehingga berkelimpahan, tetapi jika tidak punya apapun yang dimilikinya akan diambil. Apa yang Tuhan maksudkan? KEINGINTAHUAN akan kebenaran, yaitu tentang Tuhan sendiri, cukup ada setitik saja maka Tuhan akan tuntun dia.

Mat. 13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Jika dia tinggal di Myanmar mungkin dia ketemu dengan budhisme di sana. Dan jika dia di India dia akan bertemu dengan Hinduisme. Dia tidak akan menyembah pohon dan batu lagi, melainkan akan mengikuti pengajaran Hinduisme atau Budhisme.

Jika dia berhenti mencari kebenaran maka dia akan berhenti di posisi itu. Dia belum ketemu kebenaran. Dia harus ada keingintahuan akan kebenaran maka Tuhan akan menuntunnya.

Tetapi jika dia terus mencari kebenaran, dan akal sehatnya bekerja, maka dia MUNGKIN akan bertemu dengan salah satu agama monotheistik, yaitu Islam, Yudaisme, atau KEKRISTENAN. Jika dia berdekatan dengan orang Yahudi maka dia bisa ikut Yudaisme, dan jika dia berteman dengan Muslim maka dia bisa ikut Islam, atau dia berteman dengan orang Katolik maka dia akan ikut ke gereja Katolik.

Jika dia berhenti mencari kebenaran maka dia akan berhenti di posisi itu. Dia masih belum ketemu kebenaran yang sesungguhnya.

Tetapi jika dia sungguh mencari kebenaran maka dia akan bertanya terus, dia akan mencari terus. Pikirannya sekarang akan semakin fokus bahwa ada Sang Pencipta yang adalah pribadi, bukan zat. Dorongan dalam dirinya untuk mencari kebenaran akan membuat dia berpikir dan membandingkan satu agama dengan yang lain. Jika dia cerdas maka yang akan menjadi fokusnya ialah FONDASI dari sebuah agama. Yudaisme itu kitab Taurat, Nabium, dan Kethubim (mazmur/zabur), Islam itu Al Quran, dan Kristen itu Alkitab.

Jika dia berhenti mencari kebenaran maka dia akan berhenti di posisi itu, yaitu memilih salah satu agama tersebut. Dia akan tetap di Yudaisme, atau tetap di Islam atau tetap sebagai orang Katolik. Dia akan tetap dalam ibadah Simbolistik, Ritualistik dan Jasmaniah (SRJ). Dia masih belum ketemu kebenaran yang sesungguhnya.

Tetapi jika dia sungguh mencari kebenaran, maka dia akan berpikir, dan akan sadar bahwa Yudaisme dan Islam masih terjebak dalam ibadah Simbolistik, Ritualistik dan Jasmaniah (SRJ), belum masuk ke dalam ibadah yang bersifat rohaniah dalam kebenaran (Yoh.4:23), sedangkan Katolik adalah hasil campuran berbagai agama. Yesus Kristus katakan SAATNYA tiba penyembahan Allah yang benar akan menyembah dalam ROH dan KEBENARAN.

Jika dia sungguh-sungguh mencari kebenaran yang sesungguhnya maka ia akan bertanya, kitab apakah yang sungguh benar firman Tuhan yang tidak ada salah? Karena firman Tuhan yang maha benar itu tidak mungkin bisa ada kesalahan di bahasa aslinya. Tidak sulit bagi orang YANG JUJUR untuk mendapatkan bahwa di bawah kolong langit ini hanya Alkitab yang tidak ada salah.

Hasil dari pertanyaannya, dia akan sampai kepada iman yang berlandaskan Alkitab saja. Kekristenan yang memiliki kitab selain Alkitab, seperti Mormon, Christian Science, dll pasti disingkirkannya.

Tetapi ketika dia di dalam hutan belantara kekristenan, dia pasti bingung dengan ribuan denominasi, yang berbeda-beda bahkan ada yang perbedaannya sangat tipis, tetapi pada poin yang sangat utama.

Jika dia berhenti mencari kebenaran maka dia akan berhenti di posisi itu, yaitu pergi ke salah satu gereja dan berhenti bertanya. Sampai tahap ini dia belum ketemu kebenaran yang sesungguhnya.

Tetapi jika dia adalah seorang yang HAUS AKAN KEBENARAN, dia akan bertanya terus dan mencari terus. Dan Tuhan pasti akan menuntunnya sampai ketemu kebenaran yang sesungguhnya. Sebab, di dalam hutan belantara kekristenan masih ada bahaya karena DUA JENIS KESESATAN, yaitu yang memiliki EXTRA BIBLICAL AUTHORITY (ada otoritas yang di luar Alkitab) dan yang SALAH MENAFSIRKAN ALKITAB.

Jika dia cerdas maka dia pasti tahu konsep paling dasar dan paling penting dalam kekristenan ialah ALKITAB KANON TERTUTUP, yang artinya Alkitab adalah sebuah tolok ukur kebenaran yang sudah pasti, dan tak boleh ditambahi ataupun dikurangi lagi, dan bahwa PROSES PEWAHYUAN dari Tuhan sudah dihentikan dan yang sangat aktif memberi pewahyuan tambahan sesudah kitab Wahyu ialah iblis. Dia pasti segera mengerti bahwa Ellen White, Demos Shakarian, William Seymour, dan semua mereka yang bercerita bertemu Yesus, dibawa ke Sorga dan Neraka, sesungguhnya adalah pembohong atau korban bohong yang terus membohongi orang lain. Jika dia berhikmat maka dia akan mencari gereja YANG TEGAS yang hanya berdiri teguh pada Alkitab saja. Dan dia pasti akan tahu bahwa firman Tuhan hanya 66 kitab, tak boleh tambah kitab apapun dan termasuk wahyu lisan.

Jika dia mencari kebenaran maka Tuhan akan menuntun dia hingga mendengar Injil yang benar, mengaku diri orang berdosa dan bertobat, serta percaya bahwa Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung semua dosanya, saat inilah dia KETEMU KEBENARAN. Dia akan mengimani bahwa Yesus telah mati baginya, dan dia sedang hidup bagi Yesus, maka kapanpun dia mati dia pasti akan masuk Sorga.

Dan jika dia setelah percaya Yesus terus mencari kebenaran, dan terlebih lagi jika dia menyalakan akal sehatnya, serta sungguh-sungguh memperhatikan Alkitab, dia akan mengenal doktrin hasil penafsiran yang masuk akal dan yang alkitabiah. Jika dia sungguh memohon hikmat maka sangat mudah bagi dia untuk mengerti bahwa bayi belum boleh dibaptis karena belum bisa percaya (beriman). Dan dia tidak sulit untuk menyadari bahwa mustahil Tuhan memilih orang TANPA ALASAN (unconditional) untuk masuk Sorga. Doktrin predestinasi, terlebih yang mengajarkan bahwa Allah menetapkan semua kejahatan di muka bumi, adalah doktrin yang menista Allah.

Akhirnya, orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran pasti akan sampai ke GBIA (di Indonesia) atau gereja yang mengajarkan kebenaran alkitabiah. Di GBIA semua hal boleh ditanyakan, dan akan dijawab dengan akal sehat serta dengan ayat-ayat Alkitab. Tetapi jika dia tidak menghargai kebenaran lebih dari nyawanya, pengalaman menunjukkan bahwa dia tidak mungkin sampai ke GBIA, karena di jalan ada banyak tantangan dan rintangan, serta ada harga mahal yang harus dibayarnya untuk tetap berpihak pada kebenaran. Dan setelah di GBIA apakah boleh berhenti mencari kebenaran? Tidak boleh! Hidup kita yang hanya puluhan tahun ini, seharusnya harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengenal Dia (Fil. 3:10). Walau sudah di GBIA, jika Anda dapatkan ada gereja yang lebih benar, silakan tinggalkan GBIA dan pindahlah ke gereja yang lebih alkitabiah itu. Dan jangan lupa kasih tahu saya karena saya juga mau pindah. Pencari kebenaran yang mendapatkan gereja yang lebih benar MUSTAHIL boleh tinggal di posisi lamanya. Penyembah berhala yang temukan iman yang lebih benar sepatutnya meninggalkan patungnya, itulah yang dilakukan semua Rasul ketika mereka temukan iman yang lebih benar, mereka meninggalkan Yudaisme. Rasul Paulus tidak tetap di kelompok Farisi setelah temukan kelompok yang lebih benar.

Saya menulis dengan kasih dan rendah hati, untuk mendorong semua orang mempergunakan waktu hidupnya mencari kebenaran. Karena kata Tuhan,
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33).

Jakarta, 7 Desember 2019
Dr. Suhento Liauw
<www.graphe-ministry.org>
<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>
MARANATHA!

Leave a Reply

Your email address will not be published.