EUFEMISME & INJIL KEBENARAN

Jika pembaca mencari di kamus arti kata EUFEMISME maka akan dapat keterangan bahwa itu adalah ungkapan untuk menggantikan yang kasar dengan yang halus. Sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat baik yang tidak mau membuat orang tersinggung sehingga banyak menggantikan kata-kata kasar dengan kata-kata halus. Kalau di Malaysia ada Rumah Sakit Korban Lelaki, di Indonesia dihaluskan dengan Rumah Sakit Bersalin. Di Malaysia disebut setubuh bumi, di Indonesia dihaluskan dengan kata tiarap.

Tetapi, ketika menyangkut kebenaran, jika dihalus-haluskan, bahkan dengan pernyataan yang tidak sesuai kebenaran, tentu bisa menyebabkan perubahan makna bahkan kebenaran jadi hilang sama sekali. Dan iblis senang ketika sikap eufemisme bisa dipakainya untuk menipu manusia.

Hakekat Injil

Injil berasal dari kata bahasa Yunani (εὐαγγελίου) EUANGELIOU, yang awalnya lari dulu ke bahasa Arab, kemudian diindonesiakan menjadi Injil yang artinya KABAR BAIK. Kabar baik apa? Kabar bahwa manusia sesungguhnya pasti binasa karena manusia berdosa sedangkan Sorga dan Allah adalah Maha Kudus, tetapi Allah telah mengirim Yesus Kristus untuk dihukumkan menggantikan manusia berdosa, dan setiap orang yang mau mengaku dirinya berdosa, menyesali dosa, serta mengaminkan bahwa penghukuman Yesus adalah untuk dosanya, maka dia dihitung tidak berdosa lagi. Ini kabar baik, ini Injil.

Tetapi sesungguhnya berita Injil tersebut mengandung berita yang sangat mengerikan. Berita apa itu? Berita bahwa setiap orang, KECUALI bayi dan yang lahir idiot serta yang down syndrome atau yang tidak memiliki kesadaran diri, jika TANPA INJIL mereka akan berakhir di Neraka selamanya. Berita Injil itu KABAR BAIK, bukan berita ancaman karena sesungguhnya sadar atau tidak, manusia berdosa SUDAH TIDAK MUNGKIN bisa ke Sorga yang Maha Kudus. Jadi, Berita Injil bukan berita ancaman, karena ancaman itu sudah ada walau manusia tidak menyadarinya. Berita Injil itu Kabar baik bahwa manusia yang tadinya tidak bisa ke Sorga kini oleh Kasih Allah telah tersedia jalannya, yaitu melalui Yesus, yang adalah Allah sendiri menjadi manusia untuk dihukumkan menggantikan manusia. Cara menempuh jalan ini hanya dengan bertobat dan beriman bahwa Yesus telah menggantikannya dihukumkan untuk seluruh dosanya.

Kesimpulan dari Berita Injil ialah bahwa orang-orang yang meninggal tanpa Injil itu pasti akan berakhir di Neraka.  Itulah sebabnya Tuhan perintahkan agar Injil diberitakan kepada segala makhluk, dan sampai ke ujung bumi, karena konsekuensi terhadap orang yang meninggal tanpa Injil itu sangat dahsyat.

Iblis Tak Mau Manusia Diselamatkan

Iblis tidak mau manusia berdosa bertobat karena ia sangat mau manusia menemaninya di Neraka. Selain menyimpangkan Injil, tindakan iblis yang lumayan efektif ialah memacu sikap eufemisme terhadap fakta bahwa kematian tanpa Injil itu mengerikan. Contoh yang kita temukan tiap-tiap hari ialah orang yang mati tanpa Injil dikatakan akan didudukan di sisi Allah, dan mendapat berbagai hal indah. Jika ucapan eufemisme ini diucapkan juga oleh orang Kristen pada orang yang mati tanpa Injil, dan banyak manusia mendengarnya ulang-ulang, kemudian kata-kata itu masuk ke dalam hati mereka, dan mereka akan mengaminkannya menjadi kebenaran. Dan ketahuilah bahwa ini adalah KONTRA dari berita Injil. Sebab jika seseorang menyatakan bahwa orang yang mati tanpa Injil bisa ditempatkan di sisi Allah, lalu apa alasannya manusia memerlukan Injil? Dan untuk apa lagi kita keluarkan dana, tenaga, waktu, habis-habisan untuk memberitakan Injil?

Lalu kita harus katakan apa? Ketika orang bertanya kepada saya, DR. Liauw, si Anu yang meninggal itu pergi kemana? Saya sering menjawab, menurut Alkitab setiap orang yang meninggal tanpa Injil akan berakhir di Neraka. Si Anu saya tidak tahu, karena saya tidak tahu persis sikap hatinya sampai detik terakhir hidupnya. Tuhan akan memberikan kepadanya TEMPAT YANG LAYAK. Kita tahu menurut Alkitab tempat yang layak itu sangat tergantung sikap hatinya saat ia masih ada kesempatan, untuk orang kaya yang tidak peduli Tuhan tempat yang layak baginya bukan bersama Lazarus dan Abraham.

Sering kali kita mendengar kata-kata penghiburan ketika ada orang Kristen meninggal. Orang-orang demi menghibur keluarga yang ditinggalkan sering berkata bahwa ia telah bersama Tuhan Yesus, ia telah dipanggil Bapa di Sorga dan lain sebagainya. Padahal saat dia masih hidup, ia pergi ke gereja setahun cuma beberapa kali, dan ketika ditanya, apakah dia yakin akan masuk Sorga, jawabnya, tidak tahu. Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu jalan ke Sorga bisa sampai ke Sorga?

Banyak orang tidak menyadari bahwa sikap EUFEMISME sesungguhnya kontra penginjilan, sebab kalau setiap orang yang meninggal akan dapat tempat di sisi Tuhan, apakah masih perlu penginjilan kepada umat agama lain dan para pagan? Dengan ucapan-ucapan tersebut manusia semakin terbiasa serta tertanam dalam hati dan pikiran mereka bahwa semua orang mati akan ditempatkan di sisi Tuhan. Ketika seseorang tidak menyadari dan mata rohaninya tidak dapat melihat bahwa orang yang di luar Yesus akan pergi ke tempat orang kaya itu, bukan ke tempat Abraham dan Lazarus, ia tidak mungkin terdorong untuk memberitakan Injil.

Sikap EUFEMISME & Iman Kristen

Demikian juga dengan EUFEMISME dalam lingkungan kekristenan. Semua orang yang meninggal dikatakan telah dipanggil Bapa di Sorga dan telah bersama Yesus Kristus padahal yang bersangkutan tidak jelas imannya. Banyak orang masih buta rohani karena belum sanggup melihat hutan belantara kekristenan yang begitu lebat dengan keragaman pengajaran, bahwa tidak mungkin semuanya benar dan semuanya akan masuk Sorga.

Iblis memang sengaja memunculkan sebanyak mungkin lalang, sehingga di ladang jumlah lalang menjadi mayoritas dan gandum hampir hilang tergencet. Apakah yang membedakan antara lalang dan gandum? Sesungguhnya pembedanya bukan masalah karakter atau moralitas, melainkan masalah doktrinal atau pengajaran. Hal yang membedakan kekristenan dari Budhisme itu bukan masalah moral, melainkan masalah doktrin. Demikian juga yang membedakan antara satu denominasi kekristenan dengan yang lain, bukan karakter atau moral melainkan doktrin. Memang doktrin bisa membawa pengaruh pada karakter orang-orang yang mengimani doktrin tersebut.

Tujuan saya menulis ini bukan untuk mencari-cari masalah, melainkan ingin mendidik orang Kristen, agar setiap ucapan kita sesuai dengan hati dan pikiran kita. ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH LAIN DI MULUT LAIN DI HATI. Prinsip keyakinan kekristenan yang sangat utama dan penting ialah keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus, dan ini tidak memungkinkan kita bisa menyatakan sembarangan orang akan duduk di sisi Allah. Bahkan terhadap orang Kristen pun kita harus memastikan bahwa ia sudah SUNGGUH LAHIR BARU dan berada di dalam gereja yang pengajarannya alkitabiah untuk menyatakan bahwa ia sudah pergi bersama Tuhan. Tidak semua orang meninggal itu dipanggil Tuhan, bisa jadi ia diijinkan Tuhan untuk dipanggil malaikat maut, dan pergi menemani orang kaya di tempat yang sangat panas.

Saya berharap siapapun yang membaca artikel ini tidak marah melainkan mencari tahu dan memastikan diri dan anggota keluarganya bahwa mereka sungguh lahir baru sehingga jika meninggal pasti akan pergi bersama Tuhan, bukan sekedar diucapkan kata-kata EUFEMISME saja.

Jakarta, 22 April 2020
DR. SUHENTO LIAUW
<www.graphe-ministry.org>
<drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org>
YouTube channel: GBIA GRAPHE
MARANATHA!

Leave a Reply

Your email address will not be published.